KABAR GOLKAR KABAR NASIONAL

23,6 Persen SMAN Dukung Konsep Khilafah, Begini Reaksi Politisi Golkar

Politisi Golkar Nusron Wahid mengutarakan hasil riset dari Alvara Research Center yang dilakukan pada akhir 2017 dengan jumlah 657 SMA negeri melalui responden sebesar 2.400 orang menyatakan, 23,6 persen pelajar SMA Negeri di Indonesia mendukung konsep Khilafah sebagai landasan bernegara. [foto: Merdeka]

kabargolkar.com, JAKARTA – Politisi Golkar Nusron Wahid mengutarakan hasil riset dari Alvara Research Center yang dilakukan pada akhir 2017 dengan jumlah 657 SMA negeri melalui responden sebesar 2.400 orang menyatakan, 23,6 persen pelajar SMA Negeri di Indonesia mendukung konsep Khilafah sebagai landasan bernegara. Ia juga menegaskan SMA di Kudus masuk dalam hasil riset tersebut.

”657 SMA negeri tersebut menjadi pemasok mahasiswa di 15 kampus terpandang di Indonesia hingga 70 persen,” katanya.

Ia mengimbau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengubah sitem keorganisasian pelajar. Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (IPNU) agar bisa masuk ke dalam lingkungan sekolah berbarengan dengan organisasi sekolah yang sudah ada.

Nusron menyebutkan pada saat menghadiri Festival Shalawat se Karesidenan Pati (04/02), masuknya organisasi IPNU dan IPPNU untuk membentengi faham Khilafah agar tak menyebar di SMA.

Selama ini Nusron menyebut organisasi semacam IPNU, Ikatan Pelajar Putri Nahdatul Ulama (IPPNU), pelajar seperti juga Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) dan Pelajar Islam Indonesia (PII) dilarang masuk ke dalam lingkungan sekolah Negeri.

Untuk organisasi yang boleh di SMA, kata Nusron hanya Pramuka, osis, serta Rohani Islam (Rohis). Dia juga menengarai bahwa Rohis merupakan sebagai ajang penyebaran gagasan nilai-nilai Khilafah.

Jika organisasi IPNU dan IPPNU dibolehkan masuk ke sekolah negeri ia mematiskan sudah siap. Namun ia mengimbau agar ada perubahan tetang peraturan terlebih dahulu.

Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif Kabupaten Kudus Didik Hartoko mengatakan, pemerintah harus siap memberantas faham tersebut dengan bekerjasama dengan organisasi terkait. Agar faham Khilafah tak menyebar ke kalangan siswa di Kudus.

”Untuk SMA Swasta Ma’arif sudah terantisipasi oleh faham radikal tersebut. Untuk kebijakan saat ini, kami tak memiliki kewenangan untuk masuk ke SMA Negeri,” tandasnya. [Inikata]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *