KABAR NASIONAL

Aburizal Bakrie: Pemilu 2019 Akan Terjadi ‘Political Disruption’

Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Aburizal Bakrie, menghadiri acara ‘Kopi Darat (Kopdar) Praja Muda Beringin (PMB)’ dengan tema; Seberapa Gregetkah Caleg Muda Golkar?, di Gedung Kosgoro, Jln Hang Lekiu I Nomor 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (21/10/2018). (suarakarya.co.id/Sugandi)

kabargolkar.com, Jakarta – Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Aburizal Bakrie (Ical) meyakini pada pemilihan umum (Pemilu) 2019 akan terjadi disrupsi politik, fenomena perubahan politik yang begitu cepat dengan hadirnya teknologi informasi.

Karenanya, mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar ini, mengajak kader muda yang mendaftar menjadi calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019, untuk menggunakan media sosial dan teknologi informasi lainnya dalam memperjuangkan kemenangan mereka, termasuk kemenangan Partai Golkar

“Dalam pemilu 2019, saya tidak mengharapkan Partai Golkar jadi nomor dua, tapi nomor satu atau kemenangan harus kita raih di 2019. Karenanya, saya berpesan kepada anak-anak muda yang ‘nyaleg’, agar menguasai teknologi informasi, karena saya yakin di Pemilu 2019 akan terjadi political disruption,” ujar Ical, saat berbicara dalam ‘Kopi Darat (Kopdar) Praja Muda Beringin (PMB)’ bertajuk; Seberapa Gregetkah Caleg Muda Golkar?, di Gedung Kosgoro, Jln Hang Lekiu I Nomor 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (21/10/2018).

Dia pun menjelaskan soal terjadinya fenomena disrupsi politik dalam dunia bisnis di Indonesia. Menurut Aburizal, siapa pun tidak percaya bahwa Indonesia ternyata sudah cukup matang dalam penggunaan media sosial, penggunaan teknologi informasi yang begitu canggih untuk melakukan penggunaan disrupsi dalam dunia bisnis.

“Tidak ada yang percaya pada waktu itu. Saya katakan Partai Golkar sulit menggunakan sistem itu. Akhirnya cara itu digunakan oleh Pak Jokowi. Dengan luar biasa Pak Jokowi pake media sosialnya yang akhirnya dia terpilih jadi presiden,” ujarnya menambahkan.

Dia mencontohkan di dunia bisnis. Dalam kurun waktu kurang dari lima tahun, terjadi disrupsi bisnis. “Misalnya perusahaan angkutan taksi Blue Bird dan taksi-taksi lain, kalah dengan transportasi dengan penggunaan teknologi, seperti taksi online atau ojek online. Tapi yang menjadi objeknya bukan taksi, tapi penggunaan teknologi itu. Sedangkan taksi atau Go Jek atau Grabike, hanyalah alat,” ujarnya.

Fenomena lain, katanya, lima tahun lalu tidak yang menyangka bahwa Matahari Departement Store kalah dengan Tokopedia. Matahari Departement Store yang cukup besar, hilang begitu cepat.

“Dan bisa Anda bayangkan, yang kerja di Go Jek, lebih banyak jumlahnya dengan yang bekerja di tempat saya. Di Go Jek pekerjanya berjumlah 200 ribu orang, di tempat saya cuma 60 ribu. Disruption-lah yang membuat dia menjadi besar. Karenanya saya yakin betul, disrupsi politik akan terjadi di 2019,” ujarnya menambahkan.

Dia mengatakan hal itu, menjawab fenomena yang akhir-akhir ini marak diperbincangkan, disrupsi. Meskipun istilah ini mulai populer beberapa tahun lalu, tapi teori mengenai disrupsi ini pernah dipublikasikan oleh Clayton M. Christensen, seorang guru besar di Harvard Business School, di tahun 1997.

Bisa jadi, fenomena disrupsi ini, karena dampak yang ditimbulkan begitu masif sehingga semua orang dari berbagai bidang dan kalangan merasakannya.

“Jadi kita harapkan, disamping menggunakan cara-cara konvensional, yaitu dengan cara ketuk pintu, kemudian dengan penawaran atau melakukan pertemuan-pertemuan dengan masyarakat, tapi jangan lupa, semua itu harus dikabarkan melalui media sosial dan untuk dapat mendisrupsi. Kalau tadi dikatakan takut pada petahana, saya yakin dengan penggunaan sistem ini, perolehan suaranya akan signifikan. Jadi tidak perlu lagi takut dengan petahana,” katanya. (suarakarya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *