KABAR NASIONAL

Aksi Penembakan di Papua, Wabendum Golkar: Tumpas Teroris!

papua

Pahlevi Pangerang (tribun)

kabargolkar.com, Jakarta – Wabendum DPP Partai Golkar Pahlevi Pangerang mengutuk keras aksi penembakan yang dilakukan kelompok bersenjata kepada pekerja proyek jembatan Nduga, Papua, pada Minggu lalu (2/12/2018).

Melalui pernyataan yang diterima kabargolkar.com pada Sabtu (8/121/2018), politisi Partai Golkar ini menyatakan bahwa aksi terorisme tersebut harus ditumpas.

“Tumpas teroris! Tidak perlu ada diskusi,” tegas Pahlevi.

Aksi penembakan tersebut memantik reaksi dari berbagai pihak. Ketua DPR RI yang juga politisi Partai Golkar Bambang Soesatyo mengutuk keras kejadian ini dan mendesak pengerahan pasukan elit TNI untuk menumpas aksi teror tersebut. Langkah tersebut tersebut mendapat dukungan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie.

Pahlevi Pangerang mengatakan bahwa sebenarnya persoalan Papua bisa diselesaikan. “Persoalan Papua sebenarnya bisa diselesaikan. Persoalannya kenapa tidak diselesaikan?” ungkapnya.

Sebelumnya, pemerintah juga telah bereaksi terhadap aksi biadab ini. Presiden Joko Widodo memerintahkan jajarannya untuk menangkap pelaku penembakan di Nduga. Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko juga menyebut aksi penembakan yang membunuh 31 pekerja di proyek jembatan Kabupaten Nduga, Papua, adalah aksi terorisme.

Pemerataan Pembangunan di Papua dan menjaga kedaulatan bangsa itu harga mati

Politisi Partai Golkar ini mengatakan bahwa ada banyak faktor terkait Papua. “Banyak cerita soal Papua. Mulai dari faktor sejarah, politik dan HAM, kesenjangan ekonomi, budaya, dan seterusnya,” demikian Pahlevi memberikan keterangannya.

Lebih lanjut, menurut Pahlevi, ada kesadaran bahwa kondisi Indonesia yang beraneka ragam suku, bahasa, tapi dalam kerangka satu Indonesia. Dengan demikian, isu Papua tidak perlu menoleh lagi ke belakang, tapi fokus pada pemerataan pembangunan.

Berita terkait:

“Tapi bukankah kita semua sadar bahwa Indonesia beraneka ragam suku bangsa, dari Sabang hingga Merauke. Satu Nusa satu bangsa dan satu bahasa, Indonesia. Jadi isu Papua tidak ada pembahasan kebelakang lagi. Pemerataan pembangunan dan menjaga kedaulatan bangsa itu harga mati,” pungkasnya. (tim liputan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *