KABAR NASIONAL Kabar Parlemen

Bakal Gelar Hari Raya Natal di Parlemen, Bamsoet Singgung Soal Toleransi Beragama

 

Sikap toleransi dan kerukunan merupakan dua kebanggaan yang dimiliki bangsa Indonesia, sehingga kemajemukan yang ada di masyarakat Indonesia bukan malah menjadi pemecah belah, melainkan menjadi kekuatan utama. [foto: dok. Hipwee]

kabargolkar.com, JAKARTA – Sikap toleransi dan kerukunan merupakan dua kebanggaan yang dimiliki bangsa Indonesia, sehingga kemajemukan yang ada di masyarakat Indonesia bukan malah menjadi pemecah belah, melainkan menjadi kekuatan utama.

Ketua DPR, Bambang Soesatyo (Bamsoet) menilai, sikap toleransi ini bersinggungan dengan agama apapun yang diajarkan di Indonesia. Menurutnya, semua agama mengajarkan tentang senantiasa menyebarkan cinta dan kasih sayang kepada sesama manusia.

“Karena itu, siapapun tidak boleh menjadikan agama sebagai alat permusuhan. Dalam konstitusi UUD 1945 dengan tegas disebutkan negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu,” ujar Bamsoet, saat menerima Panitia Bersama Perayaan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 MPR, DPR, dan DPD RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (29/1).

Politisi Partai Golkar ini yakin, perayaan Natal yang akan diselenggarakan di ruang Pustaloka Gedung Nusantara IV DPR RI, tanggal 6 Februari 2019, bisa berlangsung secara khidmat.

Menurutnya, perayaan tersebut harus dijadikan momentum sebagai sarana menyebarkan kebajikan kepada sesama. Sehingga, semakin menguatkan rasa solidaritas kebangsaan dan menyejukan interaksi sosial.

“Sebagai representasi rakyat, perayaan Natal dan Tahun Baru maupun hari besar agama lainnya di lingkungan MPR, DPR dan DPD RI harus bisa menginspirasi masyarakat luas. Bahwa tidak ada yang lebih indah selain kita bisa hidup berdampingan secara damai, saling menghormati dan menghargai, serta senantiasa berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi di setiap harinya,” tutur Bamsoet.

Bamsoet mengingatkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa menciptakan perbedaan bukan sebagai sumber permusuhan. Melainkan agar semua umat bisa saling mengenal satu sama lain.

“Di sinilah pentingnya membuka ruang dialog antar pemeluk agama. Melalui dialog, kita bisa saling menguatkan satu sama lain. Walapun kita tidak bersaudara dalam seiman, namun kita bersaudara dalam kemanusiaan. Gus Dur juga pernah mengingatkan bahwa yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan,” pungkasnya. [Jitunews]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *