KABAR NASIONAL

Beda Pilihan Dalam Pemilu? Santai Aja Gaes!

ilustrasi (net)

kabargolkar.com Pemilu serentak 2019 hanya menyisakan sekitar 12 pekan lagi. Pada 17 April 2019 nanti, para calon pemilih akan menetapkan pilihannya. Diharapkan tidak sampai menimbulkan gesekan yang berakibat terjadinya perpecahaan di masyarakat. Tapi apakah setiap kegiatan pemilihan, baik itu pemilihan legislatif, pemilihan presiden, pemilihan kepala daerah harus diiringi dengan ketakutan bahwa akan  terjadi keributan? Sampai kapan masyarakat akan menjadi dewasa? Yang paling mudah adalah bahwa semua ini adalah bagian dari demokrasi. Membuka ruang bagi perbedaan adalah makna dari demokrasi. Jadi masyarakat harus menyikapinya dengan bijak, dan santai saja!

Perbedaan dasar untuk saling memahami

Setiap ada perbedaan justru menjadi dasar di masyarakat untuk dapat memahami satu dengan lainnya. Sikap menghormati dan bertenggang-rasa ini penting untuk memperkokoh persaudaraan.

Perbedaan pilihan calon presiden atau partai politik, atau pun kepala daerah harus disikapi dengan saling menghargai. Karena, perbedaan pilihan itu adalah suatu hal yang manusiawi. Beda pilihan itu sunnatullah. Jangan karena berbeda pilihan, masyarakat jadi saling ribut dan bertengkar antar teman, keluarga, bahkan ada yang sampai memutuskan tali silaturahmi.

Ingat, bangsa ini dibangun dari perbedaan

Walau baru kali ini pertama kalinya menyelenggarakan Pemilu serentak yang menggabungkan Pileg dan Pilpres, tapi sebenarnya pengalaman Indonesia berdemokrasi sudah lama. Bangsa Indonesia sudah ke sekian kalinya menyelenggarakan Pemilu. Baik pemilu legislatif (pileg) maupun pemilu presiden (pilpres). Kita harus mengingat, bahwa Indonesia terbentuk dari berbagai ragam suku bangsa. Jadi memang berbeda adalah hal wajar. Namun, para pendiri bangsa sudah berikrar setia untuk saling bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi satu.

Negara ini kokoh berdiri hingga kini karena  saling menghargai perbedaan, baik dalam hal suku, ras, maupun keyakinan beragama.

Beda boleh, tapi jangan merendahkan dan menghina

Hanya saja, Pemilu 2019 ini, masyarakat semakin terbuka mengungkapkan perbedaan pilihan politik. Media sosial menjadi sarana utama untuk menyuarakan pendapat tersebut. Kemungkinan terjadinya gesekan pun tidak dipungkiri.

Tidak ada salahnya masyarakat berani terbuka mengungkapkan perbedaan pilihan melalui medsos. Tapi, butuh kedewasaan untuk menyikapi perbedaan. Karena, media sosial adalah ruang publik, dimana orang lain pun berhak menyuarakan opininya. Asalkan opini tersebut tidak disertai dengan menyebarkan ungkapan kebencian atau merendahkan, bahkan menyebarkan hoaks atau berita bohong yang memancing emosi. Masyarakat dituntut untuk semakin cerdas dalam berpolitik, agar tidak mudah termakan emosi akibat informasi hoaks.

Menang tunaikan janji, kalah jadi oposisi kritis

Beri kesempatan bagi pemenang Pemilu untuk bekerja dan menunaikan janjinya. 5 tahun adalah waktu untuk membuktikan janji-janji tersebut. Sedangkan bagi pihak yang kalah, menjadi oposisi yang cerdas dan kritis sejak hari pertama. Dengan demikian langkah pemenang akan dapat dikontrol dengan baik oleh oposisi. Bila ini terjadi, akhirnya masyarakat yang akan diuntungkan, siapa pun pemenangnya. Karena semuanya bekerja untuk kebaikan rakyat. Tidak perlu berselisih atau terjadi gesekan hanya karena berbeda pilihan.

Jadi, mari kita saling menghargai pilihana yang berbeda. Sukseskan pemilu damai, berpolitik dengan santun, tanpa harus membenci siapa pun yang berbeda dengan kita. (kabargolkar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *