SOSOK

Berlari Di Tengah Hujan Dan Panas Terik UM24

Gatot Sudaryono menikmati lari dilintasan yang diguyur hujan. (Photo/Istimewa)

Kabargolkar.com – Ijinkan saya bercerita perlarian di UM24 Sabtu dan Minggu kemarin. Saya dan istri, serta Pak Eddy tiba bersama di Stadion Sepakbola Universitas Malaya hari Sabtu jam 06:30 waktu setempat. Kami menginap di satu hotel berjarak 7 km dari arena.

Pagi itu udara sejuk karena berawan sedikit berangin. Setelah menyelesaikan urusan race pack kami semua rombongan dari Indonesia berenam sempat berfoto bersama. Dari 6 orang, 3 orang mengikuti kategori 24h, yaitu Pak Eddy (55) dari Jakarta, Pak Maryanto Satria Nusantara (55) dari Jogyakarta.

Kegiatan berikutnya kami mengatur barang-barang kami. Masing2 pelari disediakan satu meja di bawah tenda yang besar untuk meletakan semua keperluan kami selama 24 jam. Benar2 event yang luar biasa dan rapi pengaturannya.

Sebelum start kami memperoleh briefing oleh Race Director Ng Seow Kong dan Allan Lee. Mereka berdua mengatakan bahwa race ini berbeda dengan race lari lainnya: kami tidak akan memperoleh vertical gain, tidak ada peta lintasan seperti gpx file, dijamin tidak akan kesasar, walaupun panitia tidak menyediakan marka penunjuk arah. Jadi race yang sangat simple katanya. Cukup ada di lintasan dan setiap 4 jam berganti arah berlari. Dari berlawanan jarum jam menjadi sebaliknya searah dengan jarum jam.

Sementara itu kami peserta kategori 24h, diharapkan berlari di lintasan 2 dan 3, dimana lintasan 1, yang dekat rumput lapangan sepak bola tidak boleh dipergunakan. Untuk menyalip pelari lain, kami harus menggunakan lintasan 3. Sementara pelari kategori 12h, menggunakan lintasan 4 dan 5, sementara kelompok pelari 6h menggunakan lintasan 6 dan 7. Kami para pelari kategori 24h diharapkan menempuh minimal 100km atau 245 laps sesudah itu baru berhak memperoleh sertifikat lomba.

Segera terbayang pengalaman saya ikut dua kali lomba hamster run di Indonesia, yaitu Kebun Raya Bogor 200 (2017) dan Jakarta Loops (12jam) di Ragunan. Untuk jarak 100 km saya teringat mengikuti Jakarta Ultra Marathon (2016) dan (2017) dimana rekor saya hanya 9 menit sebelum COT 18 jam.

Satu pertanyaan sederhana, saya tanyakan pada akhir briefing kepada Race Director: Apakah musik akan di putar selama 24 jam? Jawabannya ternyata iya. dan mengalunlah play list koleksi Seow Kong yang didominasi lagu2 disko Boney M dari Era 1970-an. Melihat seleranya kemungkinan saya satu generasi sama dia. Sunny, Daddy’s Cool dan Ma Baker menggema di stadion. .

Ada 56 pelari yang bergabung di event 24h. Semua rata-rata langganan event UM24 ini. Bahkan ada yang sudah ikut 5 kali berturut2 sejak UM 24 diselenggarakan.

Dengan cuaca seperti pagi Sabtu lalu, rasanya sedikit optimis. Dan tepat jam 08:00 kami dilepas untuk start. Putar kekiri-e, kekiri, kekiri, kekiri dan kekiri kekiri manise. . . Terus begitu seperti syair lagu Gemu famire. Dan setelah tiga jam mulai matahari ikut muncul bersama kami memanaskan stadion. Dan 4 jam kemudian “sekarang kanan-e, nona manise, putaralah kekanan, kekanan, kekanan dan kekanan manise. . . “. Tetapi matahari nya terlalu terik untuk dinikmati.

Jam 13:00 saya kami disediakan makan siang. Panitia menyediakan makanan enak sekali. Sementara di tenda KM 0 segala buah-buah dan minuman serta kue-kue tersedia melimpah. Salah satu sponshor-nya disebutkan Bakery Marathon. Nama toko kue yang jadi salah satu sponshor. Pantes . . he he he

Jam 14:00 mulai ada awan muncul di langit yang tadinya bersih. Senang mulai rasanya. Tetapi setengah jam berikutya hujan rintik mulai datang yang kemudian disusul hujan besar sekali sampai jam 19:00 malam. Pada saat hujan akan mulai reda diganti kilat dan guruh mulai bersahutan. Pengumuman dari race director, jika petir dianggap berbahaya bagi pelari untuk berada di tengah lapangan maka lomba akan dihentikan. Untungnya petir-nya dihitung oleh mereka, terjadi 3 km di luar kota Kuala Lumpur. Saya tidak tahu bagaimana caranya Seow Kong menghitung. He he he

Hujan besar 4 jam berturut-turut membuat paha dalam kanan kiri saya beradu dengan celana luar saya. Dan karena dibantu basah kuyup oleh air hujan, maka celana saya yang menang. Tidak lama kemudian terasa perih menjalar, alias paha saya mulai blister besar dan merata. Segera saya minta kedua paha kanan kiri saya di perban melingkar. Dan yang bergesekan jadinya perban dan celana basah. Saya tidak tahu yang menang siapa. He he he

Pukul 20:00 makan malam disediakan panitia, dari pilihan bubur teri, nasi telor dadar, bubur kacang hijau dan minuman barlie. Lagi2 makan malam yang mewah. Ditengah stadion sepak bola yang lampunya dinyalakan semua dan sangat terang sekali.

Makan malam tidak membuat saya tambah cepat berlari, dan akhirnya tertinggal sekitar 30 laps dari Pak Maryanto – atau sekitar 12 km. Tetapi saya masih ada didepan Pak Eddy sekitar 9 putaran. Kalau lomba di jalan biasa kita bertiga sudah tidak mungkin bertemu. Tetapi karena kami ada di lintasan lari yang sama, maka seringnya pundak saya ditepok dari belakang oleh Pak Maryanto pada saat menyalip saya. He he he

Setelah 14 jam berlari Pak Maryanto sudah mencapai jarak 100km yang dipersyaratkan. Dan karena satu hal, dia memutuskan untuk berhenti berlari dan kembali ke hotel sementara saya masih jarak 40 putaran menuju 100km.

Dengan terus meneguhkan hati saya melanjutkan lagu Gemu Famire yang berganti kekanan dan kekiri setiap 4 jam. Tetapi tiba2 jam 23:00 hujan mulai rintik-rintik lagi. Jadi hujan datang lagi di malam hari. Pak Eddy sudah menggunakan lagi jas hujan warna birunya lagi. Saya memutuskan untuk terus tanpa jas hujan sampai 20 menit menuju jam 02:00 ketika saya sudah sampai ke putaran 245. Artinya saya sudah mencapai 100km. Lebih cepat 10 menit dari rekor saya di Jakarta Ultra 2016 lalu.

Dan mendadak saya harus mengantar istri kembali ke hotel. Istri saya tidak bisa tidur di lantai di stadion terbuka walaupun Panitia menyediakan matras. Awalnya istri saya, berjanji akan tidur di Mushola stadion bersama Ibu Maryanto. Tetapi karena Ibu Maryanto sudah kembali terlebih dahulu, maka tinggallah istri saya di stadion.

Ditengah dingin dan hujan tidur beralaskan matras di stadion memang bukan cara istirahat yang enak setelah mendampingi saya berlari selama hampir 19 jam. Dengan segera saya putuskan memesan taksi dan pamitan kepada Race Director untuk mengantar istri ke hotel.

Dan karena meninggalkan stadion saya dianggap DNF walaupun saya minta ijin untuk bisa kembali ke arena. Tetapi melepaskan istri sendirian naik taksi ke hotel juga bukan pilihan yang tepat. Dan sambil menunggu taksi saya masih melanjutkan berlari hingga memperoleh tambahan 3,32 km.

Lumayan juga. Saya sebenarnya masih punya waktu 5 jam dan seharusnya masih bisa 20km lagi kalau saya niatkan menggunakan teknik berjalan sambil tidur. Satu keahlian yang dapat sejak ikutan ultra marathon. Sebetulnya keahlian yang bagus untuk dicoba di lintasan stadion tetapi tidak disarankan untuk dicoba di jalan raya. Karenanya saya belum bisa memenuhi target awal saya dari Indonesia untuk bisa berlari jarak 120km dalam 24 jam. Padahal juaranya tahun ini “hanya” menempuh 161km. He he he

Sertifikat Penghargaan yang diberikan UM 24 Ke Gatot Sudaryono. (Photo/Istimewa)

Berlari di tengah hujan dan panas terik dan hujan lagi, membuat kepala sangat berat. Betemu antara gejala flue dan rasa kantuk yang sangat, membuat segalanya jadi terasa runyam. Maka setibanya di kamar hotel, yang saya lakukan adalah benar-benar tinggal berdiri di bawah siraman air panas kamar mandi hotel dan kemudian ambruk.

Siangnya sebelum check out saya bertemu Pak Eddy yang sangat luar biasa sanggup menyelesaikan 24 jamnya dengan menempuh jarak 105 km.

Tibalah kami harus check out siang kemarin dan kembali ke Jakarta sambil hidung bocor dan gebres-gebres terus.

Banyak pelajaran yang saya peroleh andai kata kita niatkan untuk membuat race hamster run 24 jam di Jakarta. Ng Seow Kong dan Allan Lee bersedia berbagi ilmu ke saya. Tinggal kita cari stadion dengan lintasan tartan dan lampu yang baik. Semoga dapat kesempatan untuk itu. Dan lagi pula kalau saya tidak ikut event ini, mungkin seumur2, saya tidak tahu dimana itu lokasi Universitas Malaya. Kata supir taksi yang saya tumpangi, UM adalah universitas kebanggaan mereka.

Saya berjanji ke Seow Kong untuk datang lagi ke event UM 24 tahun depan. Dan untuk itu, saya akan siapkan taksi mengantar istri saya ke hotel jam 20:00 dan untuk menjemput saya besok paginya, supaya saya bisa komplit 24 jam bepusing – pusing, kata orang Medan.
He he he he

Sungguh pengalaman yang membesarkan hati. Sebelum nantinya saya mencoba perlarian saya dari GWK ke GBK selama satu bulan depan untuk sebuah kampanye anti narkoba. Sekali lagi mohon dukungan dan doanya.

Salam hormat

Gatot Sudariyono
Jakarta, 12 November 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *