KABAR DPD KABAR KADER KABAR PILEG

Blak-Blakan, Lodewijk Mualaf Sejak Jadi Mayor

Peresmian Rumah Pemenangan Calon Legislatif (Caleg) DPR-RI H Lodewijk Freidrich Paulus di Jalan KH Mas Mansyur, Bandarlampung pada menjadi ajang buka-bukaan bagi Lodewijk, Sabtu (26/1). [foto: dok. IniLampung]

kabargolkar.com, BANDARLAMPUNG – Peresmian Rumah Pemenangan Calon Legislatif (Caleg) DPR-RI H Lodewijk Freidrich Paulus di Jalan KH Mas Mansyur, Bandarlampung pada menjadi ajang buka-bukaan bagi Lodewijk, Sabtu (26/1).

Tampil di panggung utama yang menempati teras rumah, Lodewijk yang juga Sekjen DPP Partai Golkar itu, harus menjawab pertanyaan yang diajukan pemandu acara, Hendra.

Seperti talk show di televisi, Hendra mengajukan beragam pertannyaan, mulai dari soal cita-cita, perjalanan karier militer dan politik, memilih Partai Golkar, hingga soal keyakinan beragama Lodewijk menjadi seorang Muslim.

“Saya menjadi mualaf (berpindah agama menjadi Muslim) ketika (berpangkat) mayor,” jawab Lodewijk, mengawali kisah menjadi mualaf dari agama Kristen.

Lodewijk sebelum terjun ke politik dan bergabung dengan Partai Golkar adalah seorang angota Tentara Nasioal Indonesia (TNI) dan pernah menjabat sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopasus –pasukan elit TNI angkatan darat.

Menurut Lodewijk, dorongan untuk memeluk Agama Islam berawal kedekatannya dengan seorang gadis Muslim. Ketika hal ini disampaikan kepada seorang ibu, perempuan yang dihormatinya itu selalu menyatakan, dia tidak memiliki pendirian.

“Saya selalu dikatakan tidak memiliki pendirian, tidak tegas, dan seterusnya,” katanya tanpa bersedia mengungkap siapa yang dimaksudkan dengan ibu itu.

Hal itu yang akhirnya mendorong pria kelahiran Manado, 27 Juli 1957, itu mempelajari dan memperdalam Agama Islam.

Namun, pada saat tumbuh keyakinan untuk memeluk agama yang dibawa Nabi Muhammad sollallaahu alaihi wasallam (SAW), mantan perwira tinggi TNI itu mendapat tentangan dari lingkungan, termasuk keluarganya.

“Saya (kalau memeluk Islam) dikatakan akan masuk neraka,” katanya. Selain itu, dia menambahkan, jika berpindah agama menjadi Islam, bisa menghambat kariernya di militer. Apalagi, ketika itu, atasannya juga nonmuslim.

Beragam ancaman dan tentangan itu tak menyurutkan langkah Lodewijk untuk menjadi seorang Muslim, yang dipeluknya sekitar dua tahun sebelum dia menikah.

Dalam perjalannya menjadi seorang Muslim, Lodewijk mengaku bersyukur karena banyak nikmat dan kemudahan yang diperoleh, termasuk perjalanan kariernya di militer. Sekaligus menunjukkan apa yang dikhawatirkan orang lain ketika dia akan berpindah agama, tidak terbukti.

Dia mencontohkan, dari teman seangkatannya di militer, Akademi Militer Angkatan 1981, Lodewijk termasuk enam atau tujuh orang yang pertama meraih pangkat kolonel.

Tidak hanya sampai di situ. Karier militer Lodewijk juga termasuk yang cemerlang. Posisi strategis di TNI AD pernah dijabat. Antara lain, sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopasus dan Panglima Kodam Bukit Barisan.

Jabatan terakhir sebelum pensiun pada 2015, Lodewijk dipercaya menjadi Dankodiklat TNI AD. Seiring dengan itu, bintang di pundaknya pun menjadi tiga atau Letnan Jenderal.

Setelah pensiun dari militer, Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Haji Lodewijk Freidrich Paulus terjun ke politik dan bergabung dengan Partai Golongan Karya.

Mengawali karier politiknya di Golkar, Lodewijk dipercaya menjabat Korbid Kajian Strategis DPP Golkar. Kini, dia menjabat sekretaris jenderal atau orang nomor dua di partai berlambang Pohon Beringin itu.

Sempat menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Golkar Provinsi Lampung itu, menjadi salah satu alasan Lodewijk memilih Lampung menjadi tempat mencalonkan diri sebagai anggota DPR-RI pada pemilu 2019.

Sekilas pendidikan dan karier H Lodewijk Freidrich Paulus.

Lahir di Manado, 27 Juli 1957.
Danjen Kopassus ke-24 (4 Desember 2009 – 8 September 2011) menggantikan Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo. Digantikan oleh Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya.
Pangdam I/Bukit Barisan (September 2011 – Juni 2013).
Dankodiklat TNI-AD (Juni 2013 – Juli 2015).

Pendidikan militer

Akmil tahun 1981
Sussarcabif tahun 1981
Seskoad tahun 1996
Sus Para tahun 1980
Komando tahun 1981
Sus Danki tahun 1984
Gultor tahun 1984
Sus B. Prancis tahun 1988
Sus Pa Intel, Sus-I Bais ABRI tahun 1988/1992
Tech Inteligent course (Amerika) tahun 1990
Sus Pa Intel, Sus-II Bais TNI tahun 1992/1993
Tech Opt course (Inggris) tahun 1991
KSPS tahun 1997
PPSA XVI Lemhanas RI tahun 2009.

Sumber: IniLampung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *