KABAR GOLKAR KABAR KADER KABAR NASIONAL

Caleg Golkar Nilai Konflik Uyghur ‘Mainan’ Barat

Umat Muslim Uyghur tengah menangis dan meminta bantuan atas konflik yang terjadi di China, di mana mereka dibantai secara tidak manusiawi. [foto: istimewa]

kabargolkar.com, JAKARTA – Tindakan diskriminastif yang dialami umat Muslim Uyghur di China menjadi pusat perhatian masyarakat baik di dalam dan luar negeri. Selain itu, perlakuan warga China kepada kaum Uyghur pun banyak mendapat kecaman publik.

Menanggapi konflik tersebut, Calon Anggota Legislatif (Caleg) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pasuruan Dapil IV, Provinsi Jawa Timur (Jatim), Zulkarnaen menuturkan konflik ini sebelumnya pernah terjadi di Myanmar (Burma), di mana umat Muslim Rohingya ditindas dan dianggap sebagai permainan negara barat yang diamplifikasi oleh proxy-proxy barat di negeri ini.

“Mereka bukan membela kemanusiaan, melainkan menggunakan kemanusiaan untuk tujuan politiknya. Di sisi lain, lagi-lagi dibuat mainan untuk menyerang Jokowi. Rendah sekali cara main politik mereka.  Kasus Uyghur di media sosial justru digunakan untuk memainkan isu sentimen anti China di negeri ini, setelah berbagai narasi yang lebih dulu dilemparkan bahwa Jokowi pro-China,” terang Zulkarnaen kepada kabargolkar, Jum’at (21/12).

Dia menambahkan, jika boleh mengambil isu konflik di Yaman, di mana jejaring sosial tidak ada yang memprotes terhadap konflik tersebut. Padahal, lanjut Zul, Yaman merupakan wilayah dengan konflik terparah di dunia.

“Bombardir dan blokade di gencarkan pihak Arab Saudi yang kita ketahui mereka dibantu Amerika Serikat,” terangnya.

Pasalnya, masih kata Zul, tindakan bombardir dan blokade jalan yang digencarkan Arab Saudi dan Amerika Serikat, maka tidak ada amplifikasi isu di dunia maya.

“Saya sepakat jika Uyghur dijadikan alat bagi barat untuk melawan China dalam konteks perang dagang dan model perang baru, yaitu proxy war,” tegasnya.

Zul menaruh keprihatinannya atas konflik yang berbau keagamaan di China ini. “Namun sebagai pengguna media sosial, pemahaman tentang subjek di balik isu tersebut ke dunia maya dan siapa yang membuat gaduh perlu ditelusuri lebih lanjut,” tambahnya lagi.

Terkait konflik di Yaman, Zul terheran karena konflik yang lebih parah dari Uyghur dan Rohingya ini justru tidak ada yang menyorotinya.

“Jika ditelisik lebih lanjut, ternyata kita tahu mereka dari kelompok Islam mana dan berafiliasi politik ke siapa? Serta berjejaring internasional dengan siapa?,” ungkapnya.

Zul menegaskan, para pengguna di media sosial belakangan ini adalah publik media sosial ‘hore’ yang hanya bisa meramaikan karena ada yang menggerakkan isu dan opini dengan sentimen keislaman dan SARA.

“Jika sang pengampu isu, saya sebut sebagai proxy barat ini, tidak melontarkan dan mengamplifikasi isu konflik kemanusiaan di media sosial. Saya yakin netizen juga diam terhadap konflik di Yaman dan sejumlah tragedi kemanusiaan lainnya,” tukasnya.

Tambahan redaksi “zooming kasus uighur di medsos digunakan untuk memainkan isu sentimen anti cina di negri ini. Setelah narasi narasi yg lebih dulu dilemparkan bahwa Jokowi pro cina”

Hal senada juga disampaikan caleg Partai Golkar lainnya, Sahmawi. Ia mengatakan, Partai Golkar dalam hal ini berpandangan lebih objektif dan luas.

“Karena jauh dari kekuasaan. Golkar harus terdepan soal kemanusiaan,” tambahnya.

Ia menilai, bukan hanya satu organisasi yang mengalami proxy, termasuk Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang sudah menyatakan sikap.

“Begitu juga dengan 12 negara di Eropa yang sudah mengeluarkan pernyataan sikap. Termasuk 203 organisasi yang tergabung dalam Gerakan Indoneisa Beradab (GIB) juga tertipu proxy barat,” tandasnya. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *