KABAR DPD KABAR GOLKAR

Cegah Kekerasan di Sekolah, Begini Kata Politisi Golkar Jabar

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Partai Golkar Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi mendorong diterapkannya metode pendidikan kultural. [foto: merdeka]

kabargolkar.com, BANDUNG – Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Partai Golkar Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi mendorong diterapkannya metode pendidikan kultural. Menurutnya, metode ini dinilai dapat mencegah kekerasan yang dilakukan murid terhadap guru di sekolah seperti yang terjadi di Gresik beberapa waktu lalu.

“Jangan masuk filosofi berpikir orang barat, dalam kondisi aspek pendidikan kultural Indonesia sangat berbeda dengan cara pandang barat. Metodologi pendidikan kultural kita didasarkan pada cinta dan kasih sayang dari orangtua terhadap anaknya atau dari guru terhadap muridnya,” kata Dedi Mulyadi dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu, 13 Februari 2019.

Saat masih menjabat sebagai Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi menerapkan metode pendidikan didasarkan pada cinta dan kasih sayang. Salah satunya dengan meminta anak didik membawa bekal makanan ke sekolah. Selain membangun kekeluargaan yang erat antara para pelajar dan gurunya, membawa bekal juga menanamkan budaya berbagi.

“Makanan yang dimakan bersama teman-teman dan gurunya itu akan menumbuhkan cinta dan kasih sayang di antara mereka,” ung Dedi Mulyadi.

Selain itu, Dedi, mengatakan masyarakat sedang memasuki fase tidak bisa membedakan antara kekerasan dan mana kasih sayang yang dilakukan oleh guru. Menurutnya, tegas dan keras merupakan dua hal yang berbeda.

“Contohnya begini, dalam pertandingan sepakbola sangat berbeda antara bermain keras dan bermain kasar. Guru dan orangtua yang keras berbeda dengan guru dan orang tua yang kasar,” papar Dedi Mulyadi.

Lebih jauh, Dedi yang juga Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Ma’ruf Jawa Barat mengatakan untuk mencegah kekerasan di sekolah diperlukan harmonisasi dan keselarasan dalam menerapkan regulasi. Dalam hal ini terutama menyangkut Undang-undang Perlindungan Anak dan Undang-undang Guru dan Dosen.

“Kedua Undang-undang itu kan harus berjalan seiringan, saling melengkapi dan menguatkan, bukan bertentangan satu sama lain. Agar kasus kekerasan tidak terjadi lagi di dunia pendidikan,” tutup Dedi Mulyadi. [beritasatu]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *