KABAR DPD KABAR PILEG

Dedi Dorong Caleg Perempuan Bahas Isu Selain Keterwakilan Perempuan di Parlemen

kabargolkar.com, BANDUNG – Keberadaan calon legislatif (Caleg) perempuan di kancah Pemilu 2019 dalam berkampanye kurang bervariatif atau masih monoton.

Dalam berkampanye dan menyampaikan visi misi mereka hanya membicarakan terkait keberadaan keterwakilan 30% gender di parlemen. Padahal, masih ada isu lain yang soal management yang bisa disampaikan oleh caleg perempuan tersebut.

“Sekarang yang dibahas selalu tentang kesetaraan gender, kemudian hak-hak terkait perempuan dalam berpolitik. Padahal kan wanita dalam berpolitik bukan hanya soal itu saja,” kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Golkar Jabar, Dedi Mulyadi usai acara komunikasi politisi perempuan Dinas Pemberdayaan Wanita Jawa Barat di Hotel Grand Preanger, kota Bandung Rabu (6/2).

Dedi yang hadir menjadi pembicaraan menjelaskan, isu yang bisa gunakan di antaranya adalah isu soal kebutuhan sehari-hari seperti problem dapur, anak-anak sekolah, ditinggalkan suami kemudian menjanda tanpa ada jaminan. Banyak isu strategis yang sebenarnya menjadi tingkat kebutuhan yang sensitif dibutuhkan oleh perempuan mayoritas di Indonesia.

“Karena kalau ngomong di masyarakat tentang kesetaraan gender kan masyarakat mah tidak mengerti. Itu yang menjadi fokus utama,” ucap Dedi.

Lebih lanjut Dedi menuturkan, perempuan memiliki sensitivitas hati yang tinggi, maka kata dia perempuan mempunyai kemampuan tata kelola, maka ketika di DPR itu harus fokus menyoroti aspek aspek pengelolaan anggaran dengan baik. Misalnya ini anggaran harus efisien, ini anggaran harus diperbanyak untuk konsumsi publik bukan menjadi kebutuhan konsumsi aparatur atau penyelenggara.

“Nah ini kan tidak pernah menjadi tema tema yang menjadi pembicaraan mereka. Saya katakan perempuan itu memiliki kemampuan pengelola keuangan, menjadi duru dapur, juru bayar, juru pembiayaya, juru perencanaan,” katanya.

Sehingga kata Dedi, bisa dibuktikan di Indonesia ketahan keluarga yang mampu mengelola keuangan yang diberikan suaminya walaupun jumlahnya sangat terbatas, tidak memikirkan jumlah banyak atau sedikit.

“Buktinya seperti Mentri keuangan Sri Mulyani yang menjadi tokoh wanita sangat baik dan bisa menjadi panutan,” ucapnya.

Terkait wawasan caleg perempuan Dedi mengatakan, keterbatasan pemahaman, jadi terlalu normatif pemahaman hak hak perempuan itu menjadi selalu kesetaraan gender dan jumlah. Kalau bicara jumlah kan ada juga partai yang mencari calonnya susah, yang penting asal perempuan dicalonkan.

“Malah ketika itu muncul jadi kontraproduktif bagi citra prempuan itu sendiri,” tuturnya.

Dedi berharap, anggota legislatif periode 2019-2014 bisa memunculkan politis yang berkualitas dan benar-benar bisa menyampaikan aspirasi masyarakat.

“Karena jika caleg nya tidak berkualitas saya khawatir bisa memberikan citra buruk bagi partainya sendiri,” tutupnya. [GalamediaNews]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *