KABAR GOLKAR

Duka Eka Sastra Bagi Warga Bogor Korban Musibah Lion Air JT610

kabargolkar.com, BOGOR – Musibah transportasi udara kembali menerpa Indonesia. Jatuhnya pesawat Lion Air dengan kode JT610 rute Jakarta menuju Pangkalpinang pada Senin (29/10/2018) pagi begitu mengejutkan. Di saat sedang bersiap-siap menyambut minggu yang baru sesudah berakhir pekan, berita duka itu datang. Sebagaimana dilansir dari laman ekasastra.id, Eka Sastra pun turut berduka mendengar musibah tersebut. Politisi muda Partai Golkar yang duduk sebagai legislator DPR RI ini pun mengungkapkan perasaan dukanya (30/10/2018).

Eka Sastra (ekasastra.id)

Berita duka itu tersebar dengan cepat bagai angin. Saat tengah bersiap melakukan perjalanan ke Timur Tengah, saya mendengar berita jatuhnya pesawat Lion Air rute menuju Pangkal Pinang. Untuk sesaat, saya kehilangan kata.

Padahal, belum kering air mata kita saat melihat korban bencana di Lombok dan Poso. Kini, kita mendengar berita duka tentang pesawat yang jatuh. Saya membayangkan bagaimana perasaan keluarga korban yang ditinggalkan. Saya tahu bahwa ini tidak mudah, tapi kehidupan harus terus bergerak.

Banyak di antara korban kecelakaan itu adalah mereka yang menjadi tulang punggung di keluarganya. Tak cuma para bapak, ada juga sejumlah perempuan muda yang menjadi tulang punggung keluarga. Kehilangan mereka adalah kehilangan banyak hal.

Seorang sahabat memberitahukan bahwa di antara korban Lion Air itu ada seorang warga Bogor yang berprofesi sebagai konsultan lingkungan. Dia juga seorang Ketua RT yang baik. Sejak semalam, rumahnya telah ramai dengan orang-orang yang datang melayat. Kepada keluarganya, saya mengucapkan duka cita yang dalam.

Jatuhnya pesawat itu harus disikapi dengan serius. Pemerintah dan pihak maskapai harus bertanggung jawab dan berupaya agar hal serupa tidak terjadi di masa depan. Kontrol atas pesawat yang hendak terbang harus dilakukan dengan intens. Sebab jika tidak hati-hati, setiap saat maut bisa menjemput.

Semua pihak terkait penerbangan harus sama-sama memahami bahwa “Lebih baik telat tiba di tujuan, daripada tidak pernah tiba sama sekali.”

Saya juga memikirkan hal lain. Saya menyadari bahwa takdir bisa datang setiap saat. Kita tak punya kuasa untuk menolak. Kita hanya bisa tunduk dan mengikuti apa yang sudah menjadi ketentuan-Nya. Kita menjalani apa yang sudah digariskan. Setiap saat kita pun harus siap jika diri-Nya memanggil.

Dalam rentang usia yang pendek ini, harusnya kita bertanya pada diri, apakah gerangan yang sudah kita lakukan untuk masyarakat dan bangsa ini? Jika pertanyaan ini terlalu luas, maka kita bisa sederhanakan dengan bertanya, apa yang sudah kita lakukan untuk orang di sekitar kita?

Saya terkenang kalimat dari sahabat yang bijaksana. “Hal terpenting adalah bagaimana membuat hidup menjadi lebih bermakna,” katanya. Untuk itu, perbanyak silaturahmi, sering membantu orang lain, serta selalu mengajak orang lain berbuat baik. Jadilah seseorang yang memungut serpihan makna, lalu tak lelah membagikannya kepada orang lain di sekitar.

Semoga semua korban berbahagia di sisi Sang Pencipta. Turut berduka buat keluarga yang ditinggalkan.

Eka Sastra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *