Kabar Parlemen

Firmandez: Selamatkan Kaum Muda Aceh dari Narkoba!

Anggota DPR RI Firmandez

kabargolkar.com, BANDA ACEH – Tingginya peredaran narkoba di Aceh, serta banyaknya generasi muda Aceh yang terjerat narkoba, menjadi warning bagi masa depan Aceh. Untuk itu semua pihak diminta peduli dan menyelamatkan generasi muda Aceh dari jerat narkoba.

Himbauan itu disampaikan anggota DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) Aceh 2, H Firmandez, Rabu, 13 Maret 2019. Menurut politisi Golkar ini, Aceh sekarang telah menjadi tempat transit narkoba dari jaringan internasional. Sudah banyak generasi muda Aceh yang terjerat dalam mata rantai peredaran gelap narkoba. Bahkan lebih 60 persen penghuni penjara di Aceh merupakan narapidana kasus narkoba.

“Ini sebuah bom waktu bagi masa depan Aceh. Bata dari Badan Narkotika Nasional dalam tahun 2018 saja ada 73.201 warga Aceh yang terindikasi kecanduan narkoba. Jumlah itu terus meningkat di tahun 2019. Ini ancaman besar bagi Aceh,” jelas H Firmandez.

H Firmandez yang juga Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh, Papua, dan Keistimewaan Yogyakarta ini menambahkan, yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah, dari 73.201 pecandu narkoba di Aceh, hanya 916 orang yang telah menjalani rehabilitasi atau hanya sekitar 1,25 persen saja.

“Makanya dalam berbagai kesempatan saya selalu wanti-wanti Pemerintah Aceh untuk membangun pusat rehabilitasi pecandu narkoba di Aceh, agar jumlah mereka yang kecanduan bisa lebih banyak mendapat kesempatan untuk direhabilitasi untuk putus zat, agar tak lagi ketergantungan dengan narkoba,” lanjut H Firmandez.

Anggota Komisi VII DPR RI ini menambahkan, sempitnya lahan pekerjaan dan tingginya angka pengangguran, menjadi masalah utama yang membuat masyarakat terjerumus dalam jaringan peredaran narkoba. Pemerintah Aceh dan semua pihak harus ambil peduli menyelamatkan para pemuda Aceh agar tidak menjadi kurir narkoba, karena sindikat narkoba internasional disinyalir sudah lama bermain di Aceh.

Yang lebih ironis lagi kata H Firmandez, dari sekian banyak kasus jaringan internasional peredaran narkoba asal Malaysia ke Indonesia, 70 persen kurirnya merupakan pemuda Aceh. Banyaknya pemuda Aceh yang terlibat dikarenakan tidak adanya lapangan pekerjaan, serta desakan ekonomi dan upaya untuk memperoleh uang banyak dalam waktu singkat, dengan mengabaikan resiko besar.

“Mereka harus dialihkan untuk mendapat pekerjaan, pemerintah Aceh harus menciptakan lapangan kerja dan pemberdayaan melalui alternative development, untuk mencegah generasi muda Aceh terjerumus dalam lingkaran peredaran gelap narkoba,” himbau H Firmandez. (teropongaceh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *