KABAR GOLKAR

Generasi Muda Golkar Dan Reformasi (Sejarah Partai Golkar Bagian Terakhir-6)

Kabargolkar.com – Dalam rangka memperingati 90 tahun Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober, Redaksi Kabar Golkar akan mengakhirinya dengan dua tulisan bagian akhir sejarah Partai Golkar dengan sejarah Golkar sebagai wahana pembinaan pemimpin bangsa dari generasi muda.

Orang bisa berkata apa saja tentang Orde Baru, namun belum ada yang bisa mengalahkan sistem kaderisasi anak muda yang sedemikian rapi dan terencana. Ketika Reformasi memunculkan elit politik karismatik dengan ketokohan tak tergantikan seperti alm. Gus Dur, Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, kader Golkar seperti tidak ada habisnya mengisi jenjang kepemimpinan di negara kita di alam demokrasi.

Kandidat Presiden dalam Konvensi Partai Golkar: Wiranto, Prabowo Subianto, Akbar Tanjung, Aburizal Bakrie, Surya Paloh.

Saat Golkar menyelenggarakan Konvensi Calon Presiden menjelang Pemilu 2004, tokoh-tokoh muda binaan Golkar pada masa Orde Baru-lah yang menjadi kandidatnya, yaitu Akbar Tanjung, Aburizal Bakrie, Surya Paloh, bersama kandidat lain mantan Panglima ABRI Jenderal Wiranto dan mantan Panglima Kostrad Letjen Prabowo Subianto. Pada putaran pertama Konvensi, Akbar memperoleh 147 suara, Wiranto 137 suara, Aburizal di luar dugaan memperoleh 118 suara, Surya Paloh 77 suara dan Prabowo 39 suara. Akbar kalah dari Wiranto di putaran kedua Konvensi.

Hasil kaderisasi Golkar lainnya adalah Siswono Yudohusodo, Ketua Umum DPP HKTI yang berduet dengan Amien Rais di putaran pertama Pilpres 2004. Sementara Jusuf Kalla (JK), mantan Ketua Kadin Sulawesi Selatan yang menjadi Fraksi Utusan Golongan MPR 1997-1999, didapuk menjadi calon Wapres pendamping SBY dari Partai Demokrat, PBB dan PKPI. SBY-JK memenangkan pemilihan presiden langsung pertama dalam sejarah Republik Indonesia.

Kader muda Golkar juga berjasa menggagalkan gerakan pembubaran Golkar. Sejak awal reformasi, gerakan mahasiswa dan tokoh reformasi lainnya mulai menggulirkan isu pembubaran Golkar, yang berujung pada Dekrit Presiden 2001 tentang pembubaran Partai Golkar. Kader muda tersebut kemudian mengorganisasikan Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) sebagai satgas pengawal Partai Golkar.

AMPG memiliki keunikan dibanding organisasi pemuda Golkar lainnya. Jika ketua umum ormas pemuda dipilih melalui mekanisme musyawarah, maka Ketua Umum AMPG ditunjuk langsung oleh Ketua Umum. Dengan demikian kedudukannya sangat kuat, bahkan melebihi Ketua Umum AMPI yang merupakan ormas pemuda Golkar. Ketua Umum PP AMPG periode 1999-2004, Rambe Kamarul Zaman (2002-2004), Yorrys Raweyai (2004-2009 dan 2009-2014), Ahmad Doli Kurnia, Fahd A. Rafiq serta Ilham Permana (periode 2014 hingga hari ini).

AMPI sebagai ormas pemuda Golkar saat itu memiliki posisi struktural yang tidak memungkinkan dirinya terlibat dalam dinamika Partai Golkar pasca Reformasi 1998. Anggota AMPI pada masa Orde Baru kebanyakan adalah pegawai negeri sipil, perwira muda TNI dan Polri. Ketua Umum DPP AMPI saat itu, Agus Gumiwang Kartasasmita, lebih fokus melakukan perubahan di tubuh AMPI agar sesuai dengan jiwa reformasi.

Problem organisasi pemuda Golkar juga menjalar di tubuh sayap pemuda Trikarya pendiri Golkar. Hampir seluruh ormas pemuda dan mahasiswa SOKSI-MKGR-Kosgoro hanya menjadi organisasi kerangka (skeletal organization), hanya kepengurusan tanpa kegiatan. Dinamika Golkar berubah menjadi Partai Golkar dan kelompok-kelompok yang memisahkan diri, seperti Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, Partai MKGR, Partai Karya Peduli Bangsa, Partai Hanura dan Partai Gerindra, adalah penyebab terjadinya hal tersebut.

HIPMI dan FKPPI juga lepas dari pengaruh Golkar, seiring lepasnya pengaruh Golkar di organisasi wadah tunggal lain yang didirikan di masa Orde Baru, seperti Kadin, HKTI, HNSI, KNPI, SPSI dan lain-lain. Ormas pemuda Golkar hanya tinggal AMPI, AMPG dan ormas pemuda Trikarya. Tetapi itulah hebatnya Golkar, walaupun wadah kepemudaan semakin sedikit, namun mekanisme organisasi pemuda tersebut tetap berjalan dan kepemimpinan terus berganti.

Jajaran Pengurus Pusat AMPG di bawah pimpinan Ketua Umum Ilham Permana dan Sekjen Eka Sastra.

Golkar hari ini, di tengah situasi paling dinamis dalam sejarah di mana ada lima ketua umum dalam periode kepengurusan 2014-2019, tetap mampu melahirkan tokoh muda seperti Ketua Umum AMPG Ilham Permana, Sekjen AMPG Eka Sastra, Ketua Umum AMPI Dito Ariotedjo, Wakil Ketua Komisi IX Ichsan Firdaus, Ketua Umum Baladhika Karya SOKSI Novel Saleh Hilabi, dan lain-lain.

Golkar dengan kekuatan mekanisme organisasi terbukti mampu melahirkan kepemimpinan nasional yang kuat, menjadi wadah regenerasi anak muda yang dinamis. Dalam sejarahnya, Golkar tidak terjebak menjadi partai milik tokoh tertentu, atau keluarga tertentu, karena mekanisme organisasi tersebut. Partai lain bisa jadi punah dari sejarah karena hanya mengandalkan satu-dua tokoh saja, sementara tokoh di Golkar dari generasi muda dan tua, hamper berimbang dan saling menggantikan.

Sejarah terus berjalan, roda waktu tetap berputar, masa depan demokrasi Indonesia kemungkinan ada di tangan Golkar.

Sekian.[Redaksi]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *