KABAR NASIONAL

Gerak Cermat Merebut Massa Mengambang

massa mengambang

ilustrasi ( kabargolkar.com )

kabargolkar.com – Pergerakan parpol dengan berbagai strateginya berupaya menarik hati pemilih menjelang hari pencoblosan. 17 April 2019 tinggal 99 hari. Tidak lama lagi, bahkan teramat singkat.

Fokus perhatian pada umumnya mengacu pada pemilih millenial. Namun, ternyata ada calon pemilih yang tidak boleh luput dari perhatian. Calon pemilih ini masuk dalam kategori massa mengambang, atau swing voters. Partai Golkar harus bekerja lebih keras untuk meyakinkan pemilih yang masuk kategori ini.

Secara sederhana, swing voter atau massa mengambang adalah sebutan mengacu pada kelompok pemilih tertentu. Pemilih ini pada pemilu sebelumnya mendukung partai X, namun  pada pemilu berikutnya dapat mengubah dukungan ke partai Y.

Berkaca pada data beberapa lembaga survei, ada yang menyebutkan jumlah pemilih mengambang sekitar 15 persen. Persentase tersebut lebih kecil bila mengacu pada hasil survei sebuah lembaga riset dan konsultan lain yang mengatakan jumlahnya mencapai sebesar 38,4%.

Sementara data pemilih yang telah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) adalah sebesar 192 juta jiwa. Dengan demikian, ada sekitar 73,7 juta calon pemilih yang masuk dalam kategori massa mengambang ini. Atau bila mengacu pada data range (15%-38,4%) maka jumlah massa mengambang berada pada kisaran 28,8 juta hingga 73,7 juta calon pemilih. Besaran ini dapat mempengaruhi jumlah perolehan suara partai politik secara signifikan.

Massa mengambang buat persaingan ketat dan dinamis

Besarnya massa mengambang ini menyebabkan persaingan partai menjadi sangat ketat dan dinamis. Bahkan bisa jadi hasil pencoblosan berbeda dengan survei yang dilakukan beberapa waktu sebelum hari pencoblosan.

Para pemilih massa mengambang ini memiliki karakter terbuka dan bisa dibujuk oleh partai manapun. Namun, mereka akan cenderung melihat performa partai politik dan politisi serta caleg yang mewakili parpol tersebut. Hal ini disebabkan rendahnya ikatan psikologis antara pemilih dengan partai politik.

Hal ini menunjukkan bahwa masih terbuka kemungkinan partai politik yang lolos ke Senayan (DPR) saat ini, ataupun yang tidak lolos akan mengalami perubahan nasib. Bisa jadi, partai yang lolos di 2014 menjadi tidak lolos di 2019, dan kebalikannya. Bisa juga parpol yang lolos pada 2014 akan kembali lolos dengan perolehan suara lebih baik  lagi di Pemilu 2019.

Pengaruh besar terhadap hasil

Besarnya jumlah pemilih massa mengambang tidak bisa dianggap sebelah mata. Kekuatan pemilih ini mampu mengubah hasil survei sebelum pemilu. Sebagai contoh, pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2016 lalu. Ada kurang lebih sebesar 40 persen pemilih massa mengambang yang baru menentukan pilihannya di hari pencoblosan. Akibatnya, Hillary clinton yang diperkirakan akan melenggang ke Gedung Putih harus gigit jari. Pemilih kategori ini memegang kekuasaan untuk menentukan hasil pemilu.

Dengan demikian, Partai Golkar harus bergerak cermat merebut massa ini. Target pemenangan Pemilihan Legislatif 2019 bisa jadi ditentukan dari perolehan suara massa mengambang. (kabargolkar)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *