KABAR KADER

Golkar Dorong Generasi Milenial Kota dan Desa Punya Kesempatan Sama Dalam Pembangunan

Ahmad Irawan saat berkeliling di desa-desa dalam upayanya memotivasi generasi milenial bahwa mereka memiliki kesempatan yang sama dalam pemanfaatan kemajuan tehnologi. (FOTO: Istimewa)

kabargolkar.com, MALANG – Tokoh muda Ahmad Irawan melihat, bahwa pembangunan dan pemanfaatan kemajuan di bidang teknologi yang diterima generasi milenial seharusnya berimbang karena memiliki kesempatan yang sama antara di desa dan kota.

“Setelah saya berkeliling hampir setiap hari di wilayah Malang Raya ini saja, saya melihat ada perbedaan yang signifikan generasi milenial yang ada di desa dan kota, sekalipun sama-sama tersentuh modernisasi tekhnologi dan menggunakan gadget,” ujarnya.

Seharusnya pemerintah melakukan intervensi agar bagaimana generasi milenial yang ada di desa itu juga tersentuh dan menjadi sasaran pembangunan seperti yang diterima generasi milenial di kota. “Jangan hanya yang ada di kota saja yang menjadi sasaran pembangunan,” ujar tokoh muda dari partai Golkar kepada TIMES Indonesia (timesindonesia.co.id), Sabtu (26/1/2019) pagi.

Pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai seorang advokat ini juga telah keliling, turun ke desa-desa, berdialog dengan banyak masyarakat di pedesaan. “Sudah enam bulan saya melakukan itu,” jelasnya.

Dari situlah ia memperoleh fakta bahwa generasi milenial di desa itu tidak tersentuh oleh pembangunan dan pemanfaatan tekhnologi belum optimal seperti yang terjadi di perkotaan.

Karena itu ia fokus dalam framenya di bidang politik “menggarap” generasi milenial karena prosentasenya yang cukup besar. “Di desa, generasi milenialnya belum bisa menggunakan secara optimal platform media sosial facebook dan lainnya untuk kegiatan produktif. Seperti misalnya untuk pemasaran hasil pertanian,” katanya.

Ia lantas mencontohkan di wilayah Kabupaten Malang sebenarnya begitu banyak potensi yang bisa digarap lewat pemanfaatan dan modernisasi tehnologi itu. Misalnya pengolahan hasil kebun kopi, pemasaran hasil pertanian dan hilirisasi industri pertanian, dan lainnya yang bisa mendatangkan keuntungan ekonomis bagi masyarakat di desa.

Menurut dia, intervensi pemerintah disini sangat penting karena menyangkut usia produktif generasi milenial itu, menyangkut lapangan pekerjaan. “Jangan sampai mereka diabaikan dan oleh karena itu pendidikannya harus dipersiapkan sejak dini,” tuturnya.

Budaya sederhana di pedesaan, menurutnya, memang tidak perlu harus dirubah. Tapi potensi yang ada di desa itu harus dioptimalkan. Milenial di desa dan di kota harus berkolaborasi untuk masa depannya. “Mereka harus dipertemukan dalam satu titik yang mereka saling menguntungkan,” tegasnya.

Disebutkan, generasi milenial yang bisa membuka usaha kopi di cafe-cafe di perkotaan itu karena mereka memiliki akses permodalan harus menyerap hasil pertanian dari desa yang digarap oleh petani. Jadi millenial di desa tidak perlu gengsi jadi petani.

Ia tidak menampik bahwa selama ini memang budaya malu masih begitu kuat dari pedesaan yang kemudian bisa memunculkan rasa malas. “Itu karena mereka tidak punya market. Tapi kalau mereka punya market dan ada contoh sukses, pasti mereka tidak malu lagi. Memang harus ada yang memotivasi. Disini pentingnya intervensi pemerintah melakukan intervensi lewat penyediaan sarana, pelatihan dan pemasaran. Tiga hal itulah kuncinya,” tandasnya.

Untuk itulah, lanjut Ahmad Irawan, generasi milenial di desa juga harus diberikan edukasi dan akses informasi. Kalau generasi milenial mereka diedukasi, mereka akan bisa membangun image brand mengenai apa yang dihasilkan di pedesaan seperti produk kopi, misalnya. Mereka bisa memasarkan sendiri.

“Kalau produknya dikenal, modal melalui financial technology (fintech) itu akan menjadi banyak dan mereka bisa mengakses itu. Nah generasi milenial di kota-kota besar sudah memanfaatkan itu. Termasuk di perkotaan di Malang. Itu yang saya sebutkan bahwa keadaan ini harus berimbang antara desa dan kota,” ujar Ahmad Irawan. (timesindonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *