KABAR GOLKAR KABAR PILEG KABAR PILPRES

Hadapi Pemilu 2019, Perlukah Golkar Waspadai Langkah Parpol Baru?

kabargolkar.com Pesta demokrasi Pemilu 2019 akan menggelar pemilihan legislatif serta pemiihan presiden secara serentak untuk pertamakalinya.

Sebagai informasi, dari 14 parpol yang lolos fase pengisian data di sistem informasi partai politik (sipol) KPU, ada empat pendatang baru. Yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Perindo, Partai Berkarya, dan Partai Garuda.

Pemilu ini menjadi tahapan krusial bagi parpol baru tersebut. Mereka harus bergelut lagi dengan ambang batas parlemen atau syarat minimal perolehan suara untuk mendapatkan kursi di DPR.

Lalu, perlukah Partai Golkar merasa cemas dan terancam oleh kehadiran empat parpol baru tersebut?

Peluang di Pemilu 2019

Partai Golkar harus menyikapi ini dengan seksama. Setiap partai politik adalah pesaing dalam memperebutkan kursi di legislatif, baik pusat maupun daerah. Terlebih, target Partai Golkar tidak main-main. 110 kursi legislatif pusat dibidik oleh partai berlambang pohon beringin ini.

Bagaimana kans parpol baru? Bila melihat Perindo, tentu kita harus melihat kekuatan jaringan media dibelakangnya. Hal ini patut dicatat. Mengingat Hari Tanoe sebagai pendiri dan Ketua Umum Partai Persatuan Indonesia (Partai Perindo) adalah seorang pengusaha. HT juga tokoh politik sekaligus pemilik dari MNC Group. Berkaca pada pengalaman Nasdem dengan jaringan Metro TV di belakangnya. Pada Pemilu 2014 Nasdem mampu memanfaatkan secara maksimal jaringan Metro TV dan membawanya masuk parlemen. Tentu Perindo pun berharap mendapatkan berkah yang sama di Pemilu 2019.

Lalu ada PSI. Partai yang digadang sebagai partai anak muda oleh pendukungnya yang selalu memancing kontroversi. Terakhir, partai ini menyentil sesama partai koalisi dan potensial mengganggu keharmonisan partai pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin.

Kemudian, ada Partai Berkarya. Partai ini paling beririsan dengan Partai Golkar. Suka atau tidak suka, Partai yang digawangi Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto membawa napas Orde Baru dan ketokohan Soeharto. Disinyalir akan mempengaruhi suara Partai Golkar. Terlebih, banyak petinggi maupun fungsionaris partainya merupakan pindahan dari Golkar.

Terakhir, Partai Garuda. Partai ini juga bertekad untuk merebut simpati masyarakat dan merebut suara mereka.

Fokus target partai

Tentu saja, Golkar sebagai partai yang paling berpengalaman memiliki nilai lebih. Namun, adalah hal yang bijaksana untuk memandang semua parpol memiliki peluang yang sama. Apalagi jangan sampai terjebak irama yang dilantunkan pihak lain. Salah-salah, malah menghancurkan partai sendiri, dan disaat bersamaan membesarkan partai lain.

Merujuk UU 7/2017 tentang Pemilu, ambang batas parlemen untuk pemilu 2019 sebesar 4% dari suara sah nasional. Sementara dalam dua pemilu 2009 dan 2014, ambang batas itu masing-masing 2,5% dan 3,5%. Ambang batas menjadi ganjalan terbesar parpol, baik besar maupun baru. Untuk mendapatkan kursi di DPR, parpol minimal meraup 4% suara sah nasional.

Terlebih target Partai Golkar menguasai 18 persen suara nasional dan 110 kursi di legislatif DPR RI. Hasil survei juga masih memaparkan hasil beragam. Ingat, “Suara Rakyat Suara Golkar” bukan sekedar jargon, tapi nafas dan semangat Partai Golkar membela rakyat menuju Indonesia Sejahtera. Ini harus diperjuangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *