KABAR DPD KABAR PILEG

Hindari Politik Uang, Begini Penjelasan Caleg Golkar Blitar

Sebagai seorang Calon Legislatif (Caleg), Yulius Eko memiliki cara pandang yang berbeda terhadap pencalonannya sebagai anggota dewan, mengingat majunya seorang Caleg kental dengan bagi-bagi uang. [foto: istimewa]

kabargolkar.com, BLITAR – Sebagai seorang Calon Legislatif (Caleg), Yulius Eko memiliki cara pandang yang berbeda terhadap pencalonannya sebagai anggota dewan, mengingat majunya seorang Caleg kental dengan bagi-bagi uang.

Diwawancarai di kediamannya, Yulius Eko menjelaskan bahwa seharusnya sebagai seorang Caleg yang ditunjukkan kepada masyarakat adalah solusi dan inovasi terhadap semua permasalahan sosial, ekonomi, serta hukum yang ada di masyarakat.

“Kita ini calon babu-nya masyarakat, bahasa kasarnya calon gedibal, lha masak seorang babu malah nyogok duit kepada juragannya biar dipilih, kan lucu. Sekarang ini para caleg malah saling pamer SDM, Sing Dum-duman duit Mengerikan (Yang Bagi-Bagi Uang Mengerikan), bukan SDM dalam artian Sumber Daya Manusia,” jelas Yulius Eko.

Yulius Eko menekankan, yang harus dijual oleh seorang caleg adalah Sumber Daya Manusianya, bukan bagi-bagi uang agar dipilih. Karena menurutnya, dengan bagi-bagi uang maka sudah jelas jika caleg itu terpilih, nantinya akan melupakan janji-janjinya kepada masyarakat.

“Sekarang ini yang harus kita jual itu Sumber Daya Manusia, Kemampuan harus kita tunjukkan sekarang. Kan kita diberi waktu untuk kampanye, itu harus dimanfaatkan maksimal dengan menawarkan beberapa program kita. Ibaratnya kita ini mengajukan lamaran kerja kepada majikan kita, nanti biar majikan kita yang memilih calon babu-babunya ini, Seberapa bagus visi misi kita, seberapa kredibel kemampuan kita. Di masa kampanye inilah kita harus adu SDM kita, bukan bagi-bagi uang,” bebernya.

Bagi-bagi uang pada masa kampanye menurutnya adalah pembodohan bagi masyarakat. Caleg yang menyuap agar bisa dipilih nantinya tidak akan memiliki tanggung jawab untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat.

“Secara pragmatis dia akan dipilih oleh orang yang dia bayar, namun secara tidak langsung namanya akan tercoreng. Begitupun partai yang mengusungnya juga akan jelek, karena pasti caleg tersebut akan kejar setoran untuk balik modal dari uang yang dia bagi-bagikan sewaktu kampanye. Kalau sampai terjadi korupsi, bukan nama calegnya saja yang tercoreng, nama partai juga akan jelek,” terang Caleg Nomor urut 2 Dapil 5 Kabupaten Blitar ini.

Ditambahkannya, para caleg harus menjual visi misi dan program kerja agar dapat meningkatkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Jika masyarakat diajari untuk berpikiran jangka pendek, misalnya bagi-bagi uang, membelikan terop dan kursi, hal tersebut dirasa tidak mendidik untuk berpikiran jangka panjang.

“Seharusnya kita itu meyakinkan masyarakat dengan tindakan, seperti melakukan pembinaan desa untuk mengembangkan wisata. Hal seperti itu kan mendidik masyarakat untuk berpikir jangka panjang. Selain dapat meningkatkan sosial ekonominya, masyarakat juga akan belajar untuk berpikir tentag mengelola desanya supaya bisa menarik wisatawan dan menghasilkan pendapatan,” tandasnya. [tim liputan]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *