SOSOK

In Memoriam Ichsan Yasin Limpo: Sahabat Sang Mitra Politik Sejati

Bupati Gowa 2005-2015 Ichsan Yasin Limpo

oleh Nurdin Halid, Ketua DPD I Golkar Sulsel

kabargolkar.com, MAKASSAR – Ketika tengah menjalani perawatan di Singapura, saya sempatkan waktu menjenguk Pak Ichsan. Berdua kami berbincang singkat dan saling memberi motivasi.

Berulangkali ia menyampaikan maaf jika selama ini memiliki salah dan khilaf.

Sementara saya lebih banyak memberi semangat agar ia lebih kuat menghadapi ujian Sang Maha Pencipta. Semua cobaan hidup ada hikmahnya.

Saya meminta agar ia banyak berzikir. Lalu ia balik bertanya, apa lafal zikir yang terbaik.

Masih kuat melekat di alam fikiran saya hingga kini, pesan terakhir yang disampaikan pada saya sebelum pamit pulang, “Pak Nurdin teruskan perjuangan!”

Saya menjawab, “Pak Ichsan harus kuat. Agar cepat pulih untuk sama-sama kita teruskan perjuangan.”

Ia menjawabnya dengan yakin, “Insya Allah semoga saya masih kuat.”

Dari sisi ini tersimpan kesan yang kuat, betapa ia sangat peduli dengan kemajuan pembangunan Sulsel.

Meski ia menjawab seperti itu dengan nada sedikit pilu akibat kondisi kesehatannya yang makin menurun, tapi berulangkali saya membalasnya untuk memberi semangat.

Bahwa atas karunia Allah SWT, para dokter ahli yang sudah berpengalaman di Rumah Sakit Mounth Elisabeth ini, Insya Allah, kesehatan Pak Ichsan segera pulih. Secepatnya akan kembali lagi ke Makassar, berkarya untuk kemajuan masyarakat Sulsel.

Namun ternyata takdir Tuhan berkata lain. Pak Ichsan Yasin Limpo lebih disayangi Allah SWT. Ia telah menghembuskan nafas terakhirnya, menuju ke alam keabadaian.

Saya yakin, pastilah banyak orang yang merasa kehilangan atas kepergiannya.

Salah satu di antara ratusan, bahkan ribuan orang yang merasakan kehilangan dirinya itu, tak lain adalah saya.

Mungkin ada sekian orang yang menduga jika pernyataan saya seperti itu sebagai pernyataan yang klise.

Saya menerimanya sebagai suatu hal yang wajar. Sebab banyak orang hanya tahu jika hubungan antara saya dengan almarhum, hanya sebatas di atas permukaan saja.

Melihatnya sebatas seteru politik belaka. Tidak pernah tahu tentang hubungan kami di balik layar bahwa kami berdua sesungguhnya memiliki hubungan persahabatan yang mendalam.

Almarhum Ichsan Yasin Limpo secara pribadi adalah salah satu sahabat terbaik saya. Jika diukur secara politis, almarhum adalah mitra politik sejati saya.

Andaikan kita mau mencermati, baik secara pribadi, maupun dalam prilaku politik, almarhum sesungguhnya mewariskan banyak pembelajaran dan teladan kepada kita.

Misalnya, mungkin ada orang yang melihatnya jika ia punya watak sedikit keras. Tapi saya justru melihatnya bahwa itulah sikap yang tegas.

Pelajaran paling berharga yang dapat dipetik dari almarhum bahwa sekalipun kita sedang berseteru secara politik dengannya, tapi ia tidak pernah sedikitpun menutup ruang komunikasi politik.

Bahkan dirinya yang justru lebih awal membuka dan memperlancar ruang komunikasi politik dengan siapa pun termasuk seterunya.

Artinya, ia orang yang sudah matang, mampu membedakan hubungan personal dan hubungan seteru politik.

Hal-hal seperti itulah yang saya maksud bahwa Pak Ichsan adalah mitra politik sejati saya. Itulah yang membuat saya merasa kehilangan dengan kepergiannya.

Saya kehilangan dirinya selain sebagai seorang sahabat, sekaligus kehilangan sebagai mitra politik sejati.

Bahwa kita boleh saja berbeda arah dan tujuan politik, tapi persahabatan personal tak boleh putus sampai kapanpun juga.

Banyak orang tidak tahu, saat kami berseteru sebagai sesama kontestan Pilgub Sulsel 2018, tak sedikitpun kami pernah kehilangan kontak.

Banyak hal yang kami bicarakan dan sepakati untuk dipertaruhkan selama pilgub berlangsung.

Selain di antara kami bersepakat untuk takkan saling mencederai, juga kami telah bersepakat untuk konsisten berjalan di atas rel-rel demokrasi yang yang sesungguhnya demi kemaslahatan rakyat banyak.

Banyak orang tidak tahu bahwa jauh sebelumnya kami sudah menjalin persahabatan sejak usia masih muda.

Kami bersama sebagai sesama kader muda Golkar, baik di AMPI, KNPI, maupun di organisasi kepemudaan yang lain.

Bahkan juga banyak orang yang tidak tahu bahwa beberapa tahun sebelum Pilgub 2018 berlangsung, kami bekerjasama dalam banyak hal.

Tak hanya saling membantu dan mendukung dalam urusan keluarga dan politik, tapi juga jadi mitra dalam bisnis.

Satu urusan yang tak dilupa Pak Ichsan, saat kami bersama berjuang memenangkan gugatan di Mahkamah Konstitusi tentang larangan politik dinasti.

“Pak Nurdin, andai aturan itu tetap saja berjalan, saya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib pemerintahan di Gowa selanjutnya.”

Tak sebatas itu, sebagai Ketua Harian DPP Partai Golkar, saya juga yang memberi rekomendasi Partai Golkar pada putranya saat Pilkada Gowa. Bahkan saya turun langsung memenangkannya.

Beberapa tahun sesudah itu, kami intens bersama mengawal Munaslub Golkar di Bali sehingga Setya Novanto terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar.

Sesudah itu, Pak Ichsan beberapa kali mendatangi saya, baik di rumah pribadi saya di Cibubur, maupun di Makassar. Kami selalu berbincang akrab dan cukup lama.

Pak Ichsan selalu menyampaikan secara terbuka pada saya tentang rencana-rencana politiknya ke depan.

Seolah tak ada satupun yang ia sembunyikan. Keterbukaan politik seperti itulah yang menjadi ciri dan khas prilaku politik Pak Ichsan yang saya sukai dan kagumi.

Sekaligus hal-hal seperti itulah yang membuat hubungan persahabatan kami menjadi kental.

Saking kentalnya persahabatan itu, saling menegur pada hal-hal yang bersifat pribadi sekalipun, tak pernah kami tinggalkan.

Sebab itu, saya pernah menegurnya agar ia ikut seperti saya, menghentikan kebiasaan merokok. Tapi selalu dijawabnya dengan senyum.

Sebelum menutup kenangan ini, saya ingin mengungkap bahwa sebenarnya kami berdua punya program kerjasama yang sudah matang untuk diwujudkan.

Sebagai pelopor pendidikan gratis di Indonesia, ia punya mimpi agar Sulsel memiliki sekolah yang khusus untuk mengkader generasi baru yang tangguh menghadapi percaturan global.

Sebagai alumnus ilmu pendidikan, saya menyambutnya untuk menjalin kerjasama. Namun, mimpi itu belum terwujud. Ia lebih awal menemui ajal.

Selamat jalan sahabat mitra politik sejati. Mimpi-mimpi kita menjadi tanggung jawab saya untuk mewujudkannya.

Semoga arwahmu mendapat tempat terbaik di-sisi-Nya. Aamin ya rabbal alamin. (tribun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *