KABAR NASIONAL

Inspirasi Millenial! Kisah Aburizal Bakrie 72 Tahun Mendulang Sukses

72 tahun Aburizal Bakrie (kabargolkar)

kabargolkar.com – Aburizal Bakrie juga sering disebut inisialnya, ARB, atau akrab disapa Ical, atau Bang Ical adalah gabungan sosok politisi, pengusaha, negarawan dan visioner. Kisah suksesnya sebagai seorang pengusaha terkaya di Indonesia, dan Asia Tenggara sudah barang tentu harus menjadi bahan inspirasi dan panutan bagi para generasi millennial negeri ini.

Yuk kita simak beberapa hal berikut untuk mengenal lebih dekat tentang sosok negarawan ini.

 

Lahir dari keluarga pengusaha

Aburizal Bakrie lahir di Jakarta 72 tahun lalu, tepatnya pada 15 November 1946 dari keluarga pengusaha Achmad Bakrie yang memang sudah tersohor. Bisnis milik sang ayahanda berawal dari perdagangan rempah-rempah dan hasil perkebunan , khususnya dari Provinsi Lampung. Dengan kepiawaiannya mengelola aset termasuk mengelola modal yang berasal dari pinjaman, Ical kemudian membangun usaha demi usaha hingga menggurita tidak hanya sebatas perdagangan rempah dan perkebunan namun mulai merambah berbagai lini bisnis, mulai dari properti, saham, telekomunikasi, batubara dan lainnya. Kepiawaiannya terbukti mampu meneruskan bisnis sang ayah, dan bahkan makin sukses kala beliau memimpin Grup Bakrie pada tahun 1992 hingga 2004.

Achmad Bakrie (net)

 

Ical kecil, pengidap asma yang memiliki mental ‘winning is a habbit’

Mungkin banyak yang belum mengetahui hal ini. Di masa kecilnya, Ical mengidap asma. Dirinya sering batuk-batuk, dan juga cepat merasa kelelahan. Kondisi kesehatan Ical yang rentan ini tentu saja menjadi kekhawatiran ibunya. Untungnya, pada tiap akhir pekan, mereka sekeluarga sering menghabiskan waktu di Puncak. Di tempat itu,  Ical dapat menikmati ketenangan, serta menghirup udara segar. Hal ini sangat membantu pemulihan kondisinya, juga mengurangi risiko asma yang dideritanya.

Foto lama Aburizal Bakrie bersama ayahanda, Achmad Bakrie. ARB banyak belajar pada sang ayah, salah satunya adalah semangat pantang menyerah (twitter: @aburizalbakrie)

Ical tumbuh dan berkembang sebagai anak yang selalu ingin menjadi terbaik di antara orang-orang di sekelilingnya, dengan sifat berkompetisi sangat tinggi. Ical memiliki mental ‘winning is a habbit’. Di kala kelulusan Sekolah Rakyat, Ical yang selalu mendapatkan ranking nomor satu malah harus menerima kenyataan lain. Rankingnya justru bergeser ke angka dua. Juara satu didapatkan oleh sahabatnya, Lingga. Saat itu, perasaan Ical campur aduk, antara kecewa dan tidak percaya. Hal itu membuatnya murung seharian. Ical mengunci diri di kamar. Namun, pembicaraan dari hati ke hati dengan ayahnya mampu menghiburnya. Pembicaraan yang akan membentuk kehidupannya, tentang keberuntungan dan harapan. Tentang perjuangan dan hasil.

“Tanamkanlah keinginan untuk selalu menjadi nomor satu dan menjadi yang terbaik. Tapi kalau impian belum tercapai tidak boleh patah semangat, harus terus berjuang. Kalau kita berusaha menjadi yang terbaik, maka objektif kita ke depan menjadi yang terbaik,” ujar ARB.

 

selanjutnya: Ini lho filosofi ARB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *