KABAR NASIONAL

Inspirasi Millenial! Kisah Aburizal Bakrie 72 Tahun Mendulang Sukses

 

Mengasah bakat dagang sejak muda

Sebelum bergabung  dan mengembangkan perusahaan dan bisnis keluarganya, ternyata ARB sudah memiliki insting berdagang, seperti layaknya bakat yang dimiliki orang tuanya. Sejak kuliah di Bandung, ARB mengasah insting berdagangnya. Dirinya berani membuka lapak, berjualan benang layang gelasan, kaos oblong di Pasar Senen, Jakarta. Kesibukan ini membuatnya harus mondar-mandir Bandung-Jakarta untuk mensuplai barang dan mengontrol penjualannya.

Setelah lulus kuliah pun mencoba bisnis sendiri, sebelum akhirnya memutuskan untuk fokus mengembangkan bisnis perusahaan keluarganya. Walaupun perusahaan keluarga, tapi tidak ada perlakuan istimewa kepada ARB. Dirinya memulai dari level bawah, dan selalu ingin mengerjakan apa saja. Dengan demikian, dirinya mengetahui betul seluk beluk dan permasalahan perusahaannya serta potensi untuk mengembangkan perusahaannya tersebut.

 

Pernah lebih miskin dari pengemis

Sebagai seorang pengusaha, ARB pun sering mengalami pasang surut dalam menjalankan kerajaan bisnisnya. Pada tahun 1997, di puncak krisis ekonomi kala itu, ARB dan kerajaan bisnisnya mengalami kenyataan pahit. Hidupnya menyentuh titik nadir. Dalam sebuah wawancara, ARB menjelaskan bahwa dalam tahun-tahun krisis tersebut mengatakan bahwa kondisi dirinya serta keluarganya lebih miskin daripada pengemis.

Krisis tersebut mengakibatkan utang yang harus ditanggung oleh PT Bakrie Brothers jauh lebih besar dibanding asetnya. Kepemilikan sahamnya di PT Bakrie Brothers, hanya tersisa sebesar 2,5 persen saja dari mulanya sebagai pemegang saham mayoritas.

Pihak perbankan yang tadinya sangat menghormati diri serta keluarga dan perusahannya, tiba-tiba memandangnya seperti sampah yang tiada guna.

 

Tidak pernah lari dari kesulitan

Hal ini diungkapkan ARB dalam menyikapi posisinya ketika berada pada titik nadir. Hal yang mudah adalah meninggalkan semuanya. Namun, ARB memikirkan nasib orang lain yang menggantungkan harapan pada perusahaan yang  ia bina, maka ARB pun selalu bertekad untuk bangkit. ARB menghadapi kesulitan itu dengan penuh ketenangan. Lalu apa yang membuatnya bangkit? Ternyata ARB teringat nasehat ayahnya.

“Jangan pernah lari dari kesulitan. Kita diuji dengan kisah sukses dan gagal. Dan setiap kesulitan itu harus dihadapi,” ujarnya.

“Membayar utang tidak akan membuat miskin. Kalau tidak bisa bayar utang dengan duit, maka bayar dengan saham, atau surat berharga,” ujarnya lagi.

Untuk menunjukkan komitmennya itu, Ical pun menyerahkan semua sahamnya sehingga yang tersisa cuma 2,5 persen.  Sampai-sampai, sang ibunda menjadi sangat sedih karena sesuatu yang sudah dibangun oleh ayahnya dimiliki oleh orang lain, demikian ARB menuturkan. Ia pun mengubah gaya hidup. Awalnya biasa bepergian dengan pesawat pribadi, diubah dengan naik pesawat kelas ekonomi. Pelan tapi pasti, usaha dan kesungguhannya membuahkan hasil dan dapat membalikkan kondisinya yang sempat terpuruk.

 

selanjutnya: Menanamkan mimpi setinggi langit, tapi kaki tetap berpijak di atas bumi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *