OPINI

Jaguar, China Komunis dan Pleno yang Tertunda

Khalid Zabidi (kabargolkar.com)

Oleh : Khalid Zabidi*

(Obrolan sepanjang jalan antara Sultan ke Kampung Kandang bersama Zulhendri Hasan.)

kabargolkar.com Dulu tahun 2015, seingat saya, saya pernah menumpang mobilnya, sebuah mobil mewah Inggris Jaguar. Setelah sekian lama tidak berjumpa, dalam 2 minggu ini sudah 3 kali saya jumpa dia dalam rapat-rapat konsolidasi di hotel Sultan.

“Bang, aku nebeng bang, sampai halte busway.” Pintaku kepada bang Zul di lobi hotel Sultan kemarin. “Ayo, naik” ajaknya ringan. Wah, suatu keistimewaan rasanya menaiki sebuah Jaguar, saya amati dan betulkan posisi duduk, begini ya rasanya berada di dalam sebuah mobil mewah, aku bangga. “Kapan lagi bisa naik Jaguar, disupiri oleh senior pengacara handal harapan bangsa, hehehe.”

Bang Zul nampaknya butuh teman ngobrol setelah rapat konsolidasi yang buntu dan tanggung, bang Zul akhirnya memutuskan mengantar bukan hanya sampai halte busway, malah bang Zul mengantarkan saya sampai Kavling Polri Cilandak, rumahnya dulu. “Sekalian, liat rumah gue di Kav Polri, jadi lo deket ke Ciganjur,” ajaknya. “Siap bang.” Saya terlonjak senang dan berterima kasih.

Antara Hotel Sultan ke Kav Polri Cilandak, mengalir cerita, ide, tragedi dan harapan terlontar dari mulut bang Zul. Saya mendengarkan sampai hilang kekaguman saya kepada mobil mewah Jaguar karena menyimak bang Zul bercerita. Saya merasa kok ternyata biasa saja, sama saja, naik Freed dan Jaguar, batin saya bicara, tidak terlalu berbeda.

“Bangsa kita kini diambang fase terakhir dalam penjajahan modern, sebuah perang asimetris, perang proxy global.” Terangnya dengan nada idealismenya. “Siapa yang menjajah?” Tanyaku sambil menerka. “China Komunisme, Lit.” Jawabnya. “Mereka masuk dalam sistem politik kita secara diam-diam memperalat demokrasi liberal kita, dengan kekuatan uangnya, mereka membeli kesetiaan para antek-antek dengan uang.” jelasnya serius. “Mereka membeli aparat, pemimpin dalam Pilkada, Pileg dan bahkan Pilpres. Memperdagangkan suara rakyat ditukar dengan kedaulatan.” Bang Zul tampak geram. “Kini telah memasuki fase matang, fase terakhir Lit. Setelah mereka mencaplok kekayaan alam kita, kini saatnya mereka merampok kedaulatan kita.” lanjutnya. “Golkar harusnya bisa menjadi partai terdepan menyuarakan dan memperjuangkan hal substansial seperti ini agar Bangsa Indonesia bisa bebas dari penjajahan gaya baru,” tutupnya sambil kemudian beralih ke cerita masa lalu bagaimana Bang Zul dekat dengan Ketua Umum Golkar yang juga Menkokesra masa SBY.

“Gue orangnya lempeng Lit dalam bersikap, muka gue ngga bisa bohong. Kalo gue anggap ngga’ benar ya gue bilang ngga’ bener.” ujar Bang Zul mengomentari dirinya ditengah cerita pernah mengkritik Fadel dan Setya saat perseteruan pemilihan Ketua DPR RI pada suatu Rapat Pleno Partai. “Sampai Ketum, meminta gue berhenti bicara, saat gue bicara bahwa Golkar perlu citra positif di parlemen bukan sebaliknya berwajah buruk, hehehehe.” Bang Zul terkekeh mengingat peristiwa itu.

Akhirnya saat waktu Magrib kami tiba di sebuah rumah besar di Kavling Polri. “Gue dulu tinggal disini, tahun 2016 gue pindah, istri gue trauma tinggal disini.” Ada nada getir dalam suaranya. “Dulu, Setya Novanto dan kawan-kawan takziah kesini saat kepergian anak gue tersayang.” Jelas dan dalam kesedihan dan kepiluannya. Saya tidak hendak bertanya lebih lanjut. Saya coba selami kesedihannya saja. Lalu ia mengajak saya sholat Maghrib berjamaah di sebuah masjid berdesain megah sekitar situ.

Lalu pembicaraan berlanjut saat makan bakmie cap cay dan fuyunghai di food stall seputaran kampung kandang cilandak KKO. “Tadi dalam rapat, gue katakan dalam forum, kita ini sehat atau sakit, harus bedakan mana kontestasi orang per orang caketum, mana kritik kita terhadap organisasi, jangan dicampur, jangan sapu rata, sehingga kita bisa jernih memandang. Permintaan kita soal rapat pleno jangan sampai seolah-olah mau perang, bunuh-bunuhan. Yang kita inginkan bersama kan, agar partai kita melakukan evaluasi terkait Pileg, Pilpres sehingga bisa jadi pelajaran untuk mempersiapkan partai bisa lebih besar dan lebih baik dimasa mendatang, bukan menyerang, like dislike personal,” jelasnya panjang lebar penuh semangat. “Kader kritis seperti gue dianggap aneh, padahal gue menyuarakan agar kader jangan cuma berdinamika dan bersikap kritis hanya 5 tahunan sekali saja menjelang munas atas nama keberpihakan dan posisi.” Saya menanggapinya sambil angguk-angguk setuju, hampir miriplah argumen saya dengan bang Zul ini sehingga akhirnya saya mau bersama-sama memperbincangkan masa depan Partai di ruang Semeru Hotel Sultan.

“Jadi akhirnya, kita sama-sama menunda rapat pleno dong nih? Kita batal rapat hari ini. Mereka menunggu rapat pleno sampai rapat korbid selesai?” tanyaku retoris menutup pembicaraanku dengan Bang Zul terkait batalnya rencana rapat pleno Rabu kemarin, tanpa perlu melihat respon dan raut wajah Bang Zul yang sudah tampak lelah yang baru sembuh dari sakitnya.


*Penulis adalah fungsionaris Partai Golkar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *