KABAR DPD KABAR GOLKAR

Jalur Tol Surabaya-Banyuwangi Jadi Polemik, Ini Respon Golkar Jatim

Kesiapan jalan tol Surabaya-Banyuwangi. [foto: istimewa]

kabargolkar.com, SURABAYA – Bupati Jember Faida disarankan tetap fokus pada pengembangan potensi Kabupaten Jember, ketimbang mengurusi rencana pemindahan jalur tol Surabaya–Banyuwangi yang sekarang sedang menjadi polemik.

Saran itu disampaikan Ali Saiboo, Caleg Partai Golkar Jatim dari Dapil Jember dan Lumajang, menyusul polemik rencana pemindahan jalur Tol Surabaya – Banyuwangi.

“Wajar Pebkab Jember punya kepentingan dan berjuang memindah jalur tol agar lewat Jember, tapi itu jelas ranah pemerintah pusat. Karena sekarang jadi polemik, sebaiknya Pemkab Jember bangun potensi Kabupaten Jember saja. Caranya, Bupati Jember harus bisa membangun sinergi, termasuk dengan aparat birokrasinya,” kata kata Ali Saiboo yang juga Wakil Ketua Bidang Media dan Opini Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Jawa Timur ini, Rabu (26/12/2018).

Seperti diberitakan dalam situs Pemkab Jember, Bupati Jember Faida, mengungkap adanya perubahan arah pembangunan jalan tol trans jawa, yang semula tidak melewati Jember berubah melewati Jember.

Bupati menjelaskan, perubahan tersebut telah dikomunikasikan dengan Kementerian PUPR. Dalam komunikasi tersebut pemerintah daerah harus berpartisipasi dalam penyiapan lahan untuk segera dibangun dan cepat selesai

Informasi penting itu disampaikan bupati ketika memberikan sambutan dalam acara Grand Opening Transmart di Jalan Hayam Wuruk, Jumat, 21 Desember 2018 lalu. Namun klaim itu ditepis Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Herry Trisaputra Zuna yang mengatakan hingga kini belum ada keputusan yang menjelaskan bahwa rute Tol Trans Jawa akan melewati Jember.

Menurut Herry, sesuai dengan perjanjian dengan para badan usaha, rute jalan tol masih akan melewati utara Jawa. \”Belum sampai ada kesimpulan seperti itu. Sampai hari ini perjanjian masih ke atas (utara Jawa),\” ungkap Herry

Menyikapi hal itu Ali Saiboo mengatakan, rencana pemindahan jalur tol yang semula hanya menyusuri kawasan utara untuk bisa dipindahkan ke jalur tengah atau Selatan ke masuk ke wilayah Kabupaten Jember pasti akan diwarnai tarik menarik kepentingan yang keras, khususnya aspek hukum dan pendanaan.

Karena itu, tambah Ali Saiboo, Bupati Jember Faida sebaiknya fokus saja pada pembangunan potensi Jember. Pemkab Jember tidak usah ikut sibuk, karena pemindahan jalur itu jelas tidak mudah. Alasannya, sudah ada perjanjian antara investor dengan pemerintah, dan itu menyangkut perubahan perencanaan dan pendanaan yang tidak kecil.

“Kalau memang keputusannya nantinya jalur pindah melewati Jember, anggap itu bonus bagi Kabupaten Jember. Bonus itu baru bisa dinikmati jika jember siap memanfaatkan keberadaan jalan tol, baik itu untuk menopang industri pariwisata, dunia pendidikan, pertanian dan perkebunan ataupun sektor lainnya. Kalau Jember tidak siap, Jember akan rugi,” kata Ali Saiboo yang juga Wakil Ketua Bidang Media dan Opini Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Jawa Timur ini.

Perkuat Sinergi

Ali Saiboo menambahkan, Jember punya potensi yang sangat besar. Tanpa keberadaan jalan tol pun, Jember punya potensi hebat. Jember ia ibarat raksasa yang tidur nyenyak.

Selain dikenal memiliki objek wisata yang menarik, Jember sejak zaman kolonial Belanda mimiliki infrastruktur pertanian yang bagus sehingga sektor pertanian dan perkebunan maju pesat.

“Jember tak hanya punya coklat dan kopi unggulan, tapi juga punya tembakau Besuki Na-Oogst yang sangat terkenal seantero jagad, dikenal sebagai bahan pembalut cerutu yang terbaik di dunia. Kejayaan itu yang harus dikembalikan untuk memakmurkan rakyat,” kata Ali Saiboo.

Tak hanya itu, sebagai wilayah yang punya Universitas Negeri, Kabupaten Jember sejak puluhan tahun silam dikenal sebagai Kota Pendidikan yang maju. Alumnus dari SMPN dan SMAN serta Universitas Negeri Jember menyebar ke seluruh Indonesia.

Ditambahkan, banyak orang luar daerah yang bahkan sejak SMP atau SMA sudah tinggal di Jember. Mereka ini punya ikatan yang kuat dengan Kota Jember.

“Bu Faida misalnya, sejak SMA sudah di Jember. Meski kuliah di Fakultas Kedokteran Unair, namun ikatan dengan kota Jember tidak tergantikan. Belum lagi mereka yang pernah kuliah di Jember, jumlahnya luar biasa besar. Ini potensi yang luar biasa besar,” katanya.

Untuk memanfaatkan seluruh potensi yang ada, lanjut Ali Saiboo, Bupati Jember harus lebih banyak mendengar. Ia mengusulkan Faida bisa memanfaatkan libur tahun baru atau libur lebaran sebagai ajang untuk menyerap masukan-masukan kaum profesional yang pernah tinggal di Jember.

“Harus diakui Jember masih tertinggal di banding Banyuwangi, khususnya dalam membangun image di mata publik. Padahal, potensi Jember jauh lebih besar. Harusnya Jember yang terdepan di ujung timur Jawa Timur,” katanya.

Ali Saiboo menilai, potensi Jember tidak digarap maksimal karena Bupati Faida belum berhasil melakukan sinergi dengan aparat birokrasi dengan baik. Padahal, birokrasi adalah salah satu kunci penting untuk menata dan menggerakkan pembangunan.

“Tanpa dukungan aparat birokrasi, sehebat apapun Bu Faida, dia akan mengalami kesulitan. Sinergi ini hanya bisa dibangun jika ada kepercayaan dan tentu saja kontrol yang bagus. Saran saya, aparat birokrasi harus diberdayakan dan dipercaya. Jangan dicurigai,” tegasnya. [beritajatim]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *