KABAR GOLKAR KABAR NASIONAL

Keberlanjutan dan Berkeadilan, Kebijakan Sektor Energi Komprehensif Partai Golkar

kabargolkar.com

Ilustrasi sektor energi (shutterstock)

kabargolkar.com, JAKARTA – Pada Kamis 14 Februari 2019, Partai Golkar menggelar acara diskusi. Acara ini  terlaksana dalam rangka persiapan debat Capres kedua pada 17 Februari 2019 nanti. Tema diskusi pun berkaitan dengan yang akan dibahas pada debat capres kedua, yaitu sektor energi, lingkungan hidup (LH), pangan, sumber daya alam (SDA), infrastruktur serta pemerintahan.

Salah satu isu penting yang mencuat tidak hanya di tingkat nasional, bahkan global adalah terkait energi. Lalu, bagaimana kebijakan sektor energi Partai Golkar? Para kader, dan juga calon pemilih perlu mendapatkan gambaran yang jelas tentang kebijakan Partai Golkar di sektor ini. Di sela kesibukan acara diskusi, kabargolkar.com menemui salah satu nara sumber, yaitu Satya Widya Yudha, Wakil Ketua Komisi I Fraksi Partai Golkar DPR RI.

Dalam perbincangan, Satya Widya Yudha mengungkapkan panjang lebar masalah sektor energi, pengelolaan SDA, dan lingkungan hidup (LH). Berikut penuturannya:

Harus dimulai dari pemahaman yang benar di masyarakat

kabargolkar.com

Satya Widya Yudha, Wakil Ketua Komisi I Fraksi Partai Golkar DPR RI. (foto: suara.com)

Jadi begini, sesuai tema yang diangkat ketika diskusi, kita berbicara tentang ketahanan energi. Itu suatu konsep dasar yang harus dipahami, karena ada tiga istilah yang populer di masyarakat. Satu adalah kedaulatan energi. Yang kedua adalah kemandirian energi. Ketiga adalah ketahanan energi. Tiga hal itu mempunyai substansi yang berbeda.

Kalau bicara kemandirian, lebih ke arah swasembada. Bagaimana hasil energi yang kita peroleh bisa dimanfaatkan. Atau suplainya cukup untuk demand yang ada di domestik.

Konsep dasar ketahanan energi

Berbicara mengenai ketahanan energi, Satya Widya Yudha mengungkapkan empat hal yang saling berkaitan, yaitu ketersediaan suplai, infrastruktur, affordability atau kemampuan membeli masyarakat. Satu lagi yang tidak boleh dilupakan yaitu sustainabilitas, atau keberlanjutan. Berikut penuturannya:

Sementara di seluruh dunia jarang sekali yang bisa swasembada energi. Maka topiknya lebih ke arah ketahanan. Bagaimana kita memiliki ketahanan energi, ada energy resilience, atau energy security. Itu tujuannya adalah supaya kita tercukupi dulu mengenai suplainya. Jadi ketersediaan suplai.

Lantas bila sudah ada ketersediaan suplai, diangkut menggunakan apa? Perlu ada infrastruktur. Begitu ketersediaan suplai ada, infrastruktur ada, berikutnya: masyarakat mampu membeli tidak? Maka ada komponen ketiga, yaitu affordability.

Tetapi jangan salah. Ketika menjalankan hal ini semua, jangan lupakan faktor sustainability. Kalau sustainability itu berarti menyangkut masalah lingkungan. Kalau energi terlalu merusak lingkungan, itu tidak sustainable. Akhirnya tidak akan mencapai ketercukupan. Merusak tatanan kemandirian energi itu sendiri.

kabargolkar.com

kabargolkar.com

Filosofi pembangunan sektor energi Partai Golkar  

Berdasarkan pemahaman yang benar tentang dasar sektor energi, Partai Golkar mencoba menggali lebih jauh tentang yang harus dimiliki oleh masyarakat. Partai Golkar menawarkan konsep pengelolaan energi yang berkelanjutan dan berkeadilan. Ini penuturan Satya Widya Yudha:

Maka Golkar dalam hal ini mencoba menguak itu. Menjabarkan masalah energi dari filosofi dasar, pemahamannya dulu. Maka kita melihat. bila kita sudah memahami ini, berarti kita tidak bisa lagi mengerjakan hal yang biasa, atau business as usual. Karena sasaran kita lebih tinggi lagi. Kita (Partai Golkar-red) ingin energi itu berkelanjutan, dan juga berkeadilan.

Berkeadilan itu maksudnya bisa dirasakan oleh siapapun sebagai warga negara Indonesia. Jangan sampai energi itu hanya dimiliki oleh orang kaya. Dimiliki oleh industri-industri besar, misalnya, tapi orang atau rakyat kecil tidak bisa memanfaatkan.

Partai Golkar ingin pemanfaatan energi yang berkelanjutan, dan juga berkeadilan. 

 

kabargolkar.com

ilustrasi energi terbarukan, atau renewables energy (foto: Shutterstock/FotoIdee)

Upaya Golkar memperjuangkan energi terbarukan (renewables energy)

Konsep yang ditawarkan oleh Partai Golkar membutuhkan perubahan paradigma. Perubahan itu yaitu mengubah pemakaian energi fosil (fossil fuel) di masyarakat menjadi energi terbarukan (renewables energy).  Berikut penuturannya:

Maka untuk mencapai konsep energi berkeadilan ini, kita harus mengubah paradigma. Salah satu paradigma itu yaitu terkait tentang renewables energy (energi terbarukan). Itu kan artinya kita memindahkan dari fossil fuel menjadi renewables. Renewables itu tidak tergantung daripada fosil. Artinya bisa diperbaharui setiap saat, setiap hari. Karena sumbernya itu berasal dari sumber dalam kehidupan yang tergantikan. Sementara kalau fossil fuel itu dari yang tidak tergantikan. Jadi, kalau sudah menurun ya sudah.

Maka kita mengubah strategi atau skenario. Kita mencari energi ke depannya yang sustainable, yaitu renewables energy.

Ini masalah mendasar energi terbarukan (renewables energy)

Satya Widya Yudha mengungkapkan masalah mendasar implementasi energi terbarukan. Harga yang belum kompetitif membuatnya belum dilirik oleh para investor. Tapi perlahan-lahan sudah mulai ada perubahan. Berikut penuturannya:

Nah, masalah yang mendasar dari renewables energy pada hari ini adalah belum mampu mencapai level yang kompetitif dibanding fossil fuel. Contohnya, di saat harga minyak turun, pada waktu harga minyak dibawah 50, 40, bahkan 30 USD per barrel maka renewables energy mendapat tantangan. Karena tidak bisa berkompetisi dengan fossil fuel.

Berdasarkan kebiasaan, orang, bahkan negara akan cenderung untuk kembali ke masa lalunya, yaitu menggunakan fossil fuel economy. Nah, Golkar ingin mengubah itu menjadi renewables fuel economy.

Berdasarkan kebiasaan, orang, bahkan negara akan cenderung untuk kembali ke masa lalunya, yaitu menggunakan fossil fuel economy. Nah, Golkar ingin mengubah itu menjadi renewables fuel economy.

Kita bilang ke negara-negara maju dalam setiap pertemuan atau perjalanan. Kita sebagai DPR atas nama Golkar kita mengatakan kepada dunia. Coba anda kan negara maju temukanlah teknologi yang dapat membuat renewables energy itu menjadi kompetitif. Maka sekarang mulai bermunculan mobil listrik, tenaga surya, yang harganya bisa 2 sen per kilowatt hour di Abu Dhabi. Sehingga itu menjadi harga yang temurah.

Indonesia mencoba bagaimana caranya energi surya harganya lebih murah daripada kita menggunakan batubara, menggunakan gas, atau kita menggunakan minyak.

Kalau itu bisa tercapai, maka secara tidak langsung rakyat akan melihat. Begitu dia bicara listrik, dia akan tinggalkan fossil fuel.

Golkar dorong penerapan energi terbarukan 

Melalui kader-kadernya yang duduk di legislatif, Partai Golkar mendorong pemerintah untuk menetapkan target yang harus dicapai dalam rangka penerapan pemakaian renewables energy.

DPR juga mencoba melalui kader-kadernya yang ada di DPR, Golkar bilang, tolong pemerintah mempunyai target.

Kita targetkan, pada tahun 2025, kalau bisa renewables energy mencapai 23 persen. lalu target berikutnya di 2030, 2035 terkait capaian renewables energy.

Ternyata pada hari ini saja baru tercapai 7 persen. Padahal 2025 tidak lama dari sekarang. Itu menjadi tantangan. Maka kita minta kepada pemerintah. Coba ciptakan iklim investasi yang baik di sektor energi ini supaya banyak investor yang datang sehingga dia bisa memonetize sumber-sumber daya alam kita dari sisi renewables.

Itu menjadi program kita yang kita tawarkan kepada pemerintahan Jokowi, dan itu masih belum selesai. Kita berharap pak Jokowi terpilih kembali sehingga program tersebut bisa dilanjutkan oleh kader-kader Golkar di kemudian hari.

Ratifikasi Paris Accord untuk percepat implementasi energi terbarukan

Tidak banyak yang mengetahui. Partai Golkar menjadi parpol yang mendorong Indonesia meratifikasi Paris Accord. Hal ini sangat signifikan untuk mendorong penerapan energi terbarukan (renewables energy). Berikut penuturannya:

Nah, saya ingin menambahkan disini bahwa kenapa kita memindahkan dari fossil fuel ke renewables fuel. Karena Indonesia juga telah meratifikasi perjanjian, yaitu Perjanjian Paris, atau Paris Agreement, atau Paris Accord.
Di dalam Paris Accord itu disebutkan bahwa menurunkan emisi karbon sampai 29% sampai dengan 2030, atau sampai dengan 41% apabila mendapatkan bantuan asing.

Caranya bagaimana?
Kita lihat, siapa sih sebetulnya dalam sektor-sektor kehidupan kita ini sebagai penyebar emisi yang terbesar.
Nah, ternyata setelah kita breakdown itu ada perubahan lahan (land use change), kehutanaan (forestry) mempunyai faktor cukup besar. Lantas ada komponen yang tidak kalah penting, energi. Energi berkontribusi terhadap emisi. Belum lagi industri yang menggunakan bahan bakar beremisi karbon tinggi.

Ketiga faktor ini menjadi penyumbang paling besar, dan kita coba perbaiki satu persatu.

Energi kita dorong ke arah renewable. Lalu faktor perubahan lahan dan kehutanan kita perbaiki dengan manajemen kehutanan yang bagus, sehingga perubahan lahan itu tidak akan menimbulkan pencemaran emisi.

Sustainable development goals

Lebih jauh, Satya Widya Yudha mengungkapkan sektor energi dalam kerangka yang lebih besar, yaitu Sustainable Development Goals. Berikut penuturannya:

Kalau kita lihat dalam framework yang lebih besar lagi, namanya sustainable development goals. Ada 17 goals. Nah, goals nomor 7 dan 13 komplemen terhadap strategi Indonesia tadi. Karena goals nomor 7 mengatakan tentang sustainable. energi yang mudah diakses dan berkelanjutan. Kemudian goals nomor 13 lebih kepada bagaimana kita mengelola perubahan iklim (climate change).

Sehingga strategi Indonesia dan Golkar dalam hal ini sebagai partai yang berkontribusi besar di DPR, yang meratifikasi perjanjian paris tersebut. Maka kita melihat, implementasi dari perjanjian Paris tersebut harus benar-benar bisa dijalankan.

Kurangi emisi dari industri, Golkar tawarkan penerapan circular economy 

Bagaimana Golkar mengawal keseimbangan pengelolaan sumber daya alam melalui keberadaan industri-industri terkait. Tapi juga mampu mempertahankan keasrian lingkungan hidup? Berikut penuturan Satya Widya Yudha:

Seperti yang sudah disampaikan tadi, sudah menyangkut pengelolaan SDA kita. Jadi industri tadi yang mempunyai kontribusi ke dalam pencemaran lingkungan dan emisi karbon harus diatur dengan baik. Dengan menerapkan misalnya circular economy. Yaitu industri yang tidak mengenal waste (limbah). Dalam hal ini antara material dasar, lalu diproduksi, lalu ada yang dibuang. Nah, materi yang dibuang tadi bisa direcycle (daur ulang). Kalau industri kita sudah menerapkan circular economy, maka industri kita secara tidak langsung sudah mengurangi emisi karbon.

kabargolkar.com

Circular economy (climateaction.org)

Demikian perbincangan dengan Satya Widya Yudha. Partai Golkar sebagai mitra koalisi pemerintah memiliki pemikiran kritis serta konsep yang jelas tentang pengelolaan sektor energi. Sektor ini tidak berdiri sendiri, karena terkait juga dengan pengelolaan sumber daya alam dan kelestarian lingkungan hidup. (kabargolkar

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *