KABAR GOLKAR

Kenaikan Minyak Dunia Titik Rentan Jokowi

jokowi

ilustrasi: Potensi kenaikan harga BBM potensi merugikan Jokowi. (bphmigas)

kabargolkar.com – Beberapa hari terakhir, harga minyak dunia terus melemah. Terakhir, harga minyak dunia terus turun hingga sempat menyentuh level USD 57 per barel. Namun, belum sempat bernapas lega, tiba-tiba harga minyak dunia berbalik arah melesat naik.

Pada akhir perdagangan Kamis (13/12) atau Jumat (14/12) pagi WIB, harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), untuk pengiriman Januari 2019 naik. Kenaikan sebesar 1,43 dolar AS menjadikan harga minyak menjadi 52,58 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak mentah Brent juga mengalami kenaikan. Untuk pengiriman Februari 2019 naik 1,3 dolar AS menjadi ditutup pada 61,45 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Bahkan disinyalir, harga minyak akan naik karena pasokan minyak global lebih rendah akibat kesepakatan pemotongan produksi minyak oleh negara-negara OPEC dan non OPEC. Disamping itu, produksi minyak Brent yang lebih rendah di Kanada, Rusia dan Laut Utara turut mendorong kenaikan harga minyak. Badan Energi Internasional (IEA) juga mengungkapkan, untuk pasokan non-OPEC, telah merevisi perkiraan pertumbuhan untuk 2019 turun 415 ribu barel per hari. Revisi tersebut sebagian karena pemotongan produksi dari Rusia yang disepakati pekan lalu, dan pertumbuhan yang lebih rendah di Kanada.

Stok minyak mentah AS juga turut memberi pengaruh dalam pergerakan harga minyak dunia.

Politisasi harga BBM di tahun Pemilu

Sebenarnya naik turunnya harga BBM selalu menjadi alat yang dipergunakan oleh para politisi, baik itu oposisi maupun dari pemerintah. Terlebih di tahun penyelenggaraan Pemilu. Seperti yang dilakukan SBY menjelang Pemilu 2009.

Tercatat tiga kali SBY melakukan penurunan harga BBM menjelang Pemilu 2009. Pertama, pada Desember 2008, harga BBM turun Rp 500 per liter.  Premium menjadi Rp 5.500 per liter. Kemudian, dua pekan kemudian, premium turun lagi Rp 500 menjadi Rp 5.000 per liter. Ketiga,  pada 29 Januari 2009, sekitar lima bulan sebelum Pemilu Presiden 2009, harga BBM kembali turun Rp 500 per liter. Premium dan solar menjadi Rp 4.500 per liter.

Langkah tersebut dianggap efektif oleh para pengamat. Membentuk pencitraan positif di mata rakyat. Namun kebijakan tersebut sangat mahal harganya. Kebijakan pencitraan ini menjadi biang kerok karena menyebabkan beban anggaran negara kian membengkak. Kebijakan ini dianggap sebagai kesalahan terbesar yang menyebabkan Indonesia terjebak dalam jerat subsidi BBM yang membebani APBN.

Kenaikan harga BBM di tahun 2019 bisa saja terjadi, mengingat dinamika global yang selalu terjadi. Terlebih kebijakan penurunan produksi minyak yang telah disepakati negara-negara OPEC dan non OPEC yang bertujuan menjaga harga minyak tetap tinggi. Hal ini harus diwaspadai. Karena bila terjadi, partai koalisi, termasuk Partai Golkar yang mendukung Jokowi akan mendapat sorotan masyarakat. (kabargolkar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *