Kabar Pemilu KABAR PILEG KABAR PILPRES

Khalid Zabidi: Golkar Paling Cocok Buat Milenial

Diskusi publik dengan tema Pilpres 2019 di Mata Para Milenial yang diselanggarakan oleh Indonesian Democracy Network dihadiri Khalid Zabidi (Golkar), Guntur Romli (PSI), Barri Pratama (Wakil Ketum PP KAMMI), Abdul Azis MN (Ketua Bidang Politik PB HMI) dan Sidratahta Mukhtar (Pengamat Politik UKI), di D Hotel, Guntur, Jakarta Selatan, Selasa (23/10/2018) | AKURAT.CO/Khalishah Salsabila

Kabargolkar.com, JAKARTA – Politisi muda Partai Golkar Khalid Zabidi menyatakan keramaian dan kekisruhan dalam pemilihan presiden (Pilpres) adalah bagian dari dinamika kontestasi, demikian yang dikatakannya dalam diskusi ‘Pilpres 2019 Di Mata Para Milenial’ yang diselenggarakan IDN (Indonesia Democracy Network) di D Hotel, Jakarta, Selasa (23/10/2018).

“Pilpres itu sudah 4 kali, jadi peristiwa rutin 5 tahunan dalam demokrasi, jika ada keramaian dan kekisruhan adalah dinamika kontestasi pilpres,” jelas Ketua DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) tersebut.

Khalid juga mengatakan dari dulu keramaian dalam bentuk hoaks sudah ada, hanya bentuknya saja yang berbeda seperti selebaran gelap, corat coret protes dinding tanpa nama, surat kaleng dan sejenisnya yang tidak perlu disikapi atau dihiraukan secara berlebihan.

“Hoax dari dulu sudah ada dalam bentuk selebaran gelap, coretan dinding tanpa nama, surat kaleng, semuanya hanya kembang-kembang pemilu dan tak perlu banyak dihiraukan, habis hoax tumbuh seribu hoax lain,” ucap dosen Universitas Paramadina itu.

Dalam kaitannya dengan generasi milenial, menurut Khalid istilah itu sama saja dengan anak muda, sebutan milenial disematkan pada generasi kelahiran 1980-2000 oleh kelompok marketer dalam konteks bahasa marketing sebagai sebuah ceruk saja, tidak mengherankan karena praktek demokrasi liberal model pilpres dipandang sebagai upaya meraup pemilih dengan menjual produk politik ala political marketing.

“Milenial sebagai anak muda seperti halnya anak-anak muda di masa sebelum ini, paling tidak punya 3 ciri khas, anti mainstream, anti established dan penyuka alternatif bahkan cenderung subversif, jika ada milenial atau anak muda yang suka mainstream, establishment dan formal dan normal coba tolong di cek lagi DNA kepemudaannya,” jelas fungsionaris DPP Golkar bidang Cendekiawan tersebut.

Milenial yang konon mempunyai ceruk suara yang besar, seharusnya mereka jangan mau hanya jadi bancakan suara pada pemilu, anak muda harus punya agenda politiknya sendiri untuk masa datang, misalnya bagaimana mengembangkan AI, big data dalam dinamika politik demokrasi, apakah robot atau AI bisa menggantikan fungsi aparat dan anggota dewan atau mulai menebar optimisme dan semangat inovatif.

“Milenial dengan karakternya yang dinamis, cepat (bosan), praktis, galau dan serba bisa punya kedekatan karakter dengan Partai Golkar, bagaimana tidak, dalam 5 tahun terakhir Partai Golkar sudah punya/ganti 5 Ketua Umum dari ARB, AL, SN, IM dan AH,” ungkap alumni ITB tersebut.

Dalam 5 tahun Golkar juga sudah berpindah haluan dukungan, dari oposisi terhadap Jokowi menjadi paling mendukung Jokowi, dan Golkar menempatkan lima kader serba bisa dan sangat menguasai medan permainan yaitu Wapres JK, Luhut Panjaitan, Airlangga Hartarto, Agus Gumiwang dan Nusron Wahid.

“Golkar itu dinamis, cepat, galau dan serba bisa, inilah partai yang paling cocok untuk kaum milenial,” demikian Khalid dalam pernyataan penutupnya.[Tim Liputan]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *