KABAR GOLKAR KABAR NASIONAL

Menperin Genjot Ekspor Furnitur

Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto bersama Menteri Pendidikan Tinggi dan Keterampilan Singapura, Ong Ye Kung dan Bupati Kendal Mirna Annisa meninjau workshop yang dilakukan oleh mahasiswa di Kawasan Industri Kendal (KIK), Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. [foto: istimewa]

kabargolkar.com, JAKARTA — Pemerintah melalui Kementrian Perindustrian mencatat nilai ekspor furnitur dan kerajinan tahun lalu mencapai US$1,69 miliar. Angka itu tumbuh 4% dari nilai ekspor tahun 2017 yang tercatat US$1,63 miliar.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan pihaknya bertekad untuk semakin memacu kinerja ekspor furnitur apalagi dengan potensi bahan baku yang dimiliki. Ia mengungkapkan Indonesia merupakan penghasil 80% bahan baku rotan dunia, dengan daerah potensial rotan di Indonesia yang tersebar di berbagai pulau, terutama di Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera.

Selain itu, sumber bahan baku kayu di Indonesia juga sangat besar, mengingat potensi hutan yang sangat luas hingga 120,6 juta hektare dengan terdiri dari hutan produksi mncapai 12,8 juta Ha.

“Industri furnitur merupakan salah satu sektor strategis dalam menopang perekonomian nasional. Selain itu, berperan penting dalam mendukung kebijakan hilirisasi industri karena berbasis sumber daya alam lokal, yang terus dipacu nilai tambahnya,” kata Airlangga di Jakarta, Minggu (10/3).

Pemerintah lanjut dia berupaya mengoptimalkan potensi industri furnitur nasional melalui beberapa kebijakan, antara lain melalui program bimbingan teknis produksi, promosi dan pengembangan akses pasar, serta penyiapan SDM industri furnitur yang kompeten.

“Kami berupaya untuk menciptakan tenaga kerja terampil dan inovatif yang mampu meningkatkan daya saing industri furnitur di dalam negeri,” imbuh Airlangga.

Guna mencapai sasaran tersebut, Kemenperin telah memfasilitasi pembangunan Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu di Kawasan Industri Kendal (KIK), Jawa Tengah.

Ketua Umum Partai Golkar itu menambahkan, dalam upaya menggenjot daya saing industri furnitur nasional, diperlukan kreativitas dan inovasi desain produk yang mengikuti selera pasar terkini agar mampu kompetitif hingga kancah global.

Airlangga pun menyambut baik dengan penerapan sistem ganda (70% praktik dan 30% teori) pada proses pembelajaran di Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu.

“Konsep dual system yang dikembangkan Swiss tersebut, diyakini akan menghasilkan lulusan yang benar-benar sesuai kebutuhan masa depan, terutama dalam memasuki era industri 4.0,” pungkasnya. [wartaekonomi]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *