KABAR KADER

Meutya Hafid ke Mahasiswa: Politik Mewujudkan Kebaikan Bersama

Legislator Golkar Meutya Hafid di Universitas Sumatra Utara, Senin (26/11) (tribun)

kabargolkar.com, MEDAN – Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Meutya Hafid mengunjungi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Univeristas Sumatera Utara (USU) untuk mengisi kuliah umum, Senin (26/11/2018).

Bertempat di Gedung Ruang Sidang FISIP USU, kuliah umum yang disampaikan oleh Meutya adalah rangkaian acara 1st Anniversary Political Entrepreneurship.

Dengan tema Pendidikan Politik bagi Milenial, Meutya menyampaikan pandangannya di depan 200 mahasiswa yang memenuhi ruangan.

“Lahirnya politik untuk mewujudkan kebaikan bersama. Bukan semata-mata atas digunakan untuk kekuasaan,” katanya.

Sistem politik representasi yang dianut oleh Indonesia mengharuskan semua kelompok seharusnya terwakilkan, tambahnya. Terutama pentingnya perwakilan anak muda.

“Anak muda dikenal apatis, tidak percaya dan hanya 11 persen dari generasi milenial yang mau menjadi anggota parpol,” ungkap Meutya yang pernah berprofesi sebagai jurnalis ini.

Namun, tidak sedikit generasi muda yang masih optimis mengenai masa depan Indonesia yang lebih baik.

“Anak muda memiliki potensi dinamis, kritis dan mampu beradaptasi dengan baik dengan sosial media. Nah, sosial media adalah model partisipasi anak muda sekarang,” lanjutnya.

Dalam pemilihan 2019 nantinya, jumlah pemilih milenial mencapai 70-80 juta jiwa dari 193 juta pemilih. Artinya sekira 35-40 persen pemilih adalah para pemuda Indonesia.

Meutya juga menyampaikan jika jumlah milenial di Sumatera Utara sekira tiga juta penduduk. Ini merupakan angka keempat terbanyak di provinsi seluruh Indonesia dan posisi pertama di Pulau Sumatera.

“Maka dari itu pendidikan politik sangat penting. Bagaimana kita bisa memahami Indonesia, memahami kebijakan politik, faham peran pemerintah dan mampu memilih secara cerdas dan rasional,” katanya.

Pemilihan 2019 adalah sejarah baru Indonesia dimana pemilihan legislatif dan presiden dipilih secara serentak. Untuk itu, Meutya mengajak para mahasiswa memberitahukan kepada teman dan keluarga mereka.

“Pilpres dan Pileg akan dilakukan secara bersamaan. Sampaikan. Jelaskan. Anak muda yang punya peran. Ini adalah seminim-minimnya yang partisipasi yang bisa dilakukan,” katanya.

Orang yang masuk ke dalam politik harus belajar, ucapnya kemudian. Lalu siapa yang betugas mengajari mereka yang tidak punya background politik masuk politik? Ia kembali meminta mereka yang memang berkuliah di bidang politik, mau masuk ke dunia politik praktis.

“Kalau tidak tahu dasar-dasar politik, filosofis kenapa politik itu ada, bagaimana bisa merepresentasikan keterwakilan mereka di bidang politik,” tambahnya.

Perempuan yang membangun sekolah politik untuk kesadaran anak muda yang masuk politik dan mau belajar politik ini menambahkan politik negara akan bagus jika sumber daya manusianya juga bagus.

“Saya ingin banyak anak-anak muda yang menemani saya. Saya akan bergembira. Saya punya kawan dan sahabat,” tuturnya.

Kuliah Umum yang menghadirkan Meutya Hafid sebagai pembicara ini adalah rangkaian acara yang digelar oleh Political Entrepeneurship (PE). Yaitu lembaga mahasiswa di bawah Departemen Ilmu Politik FISIP USU.

Selain kuliah umum, dalam menyambut berdirinya PE selama satu tahun, mereka akan mengadakan Seminar Nasioanal Psikologi Politik, Talkshow dengan Ghandi November, Bazar, serta berbagi dengan anak yatim.

Dengan judul Seminggu Bersama PE, rangakaian acara dilaksanakan pada 26 hingga 30 November 2018. (tribun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *