OPINI

Optimalisasi Energi Alternatif Terbarukan untuk Kurangi Defisit Migas

Eka Sastra

oleh: Eka Sastra*

kabargolkar.com Membengkaknya defisit neraca perdagangan Indonesia pada 2018 disebabkan oleh defisit neraca migas sebesar US$ 12,40 miliar. Yang terdiri dari defisit minyak mentah tercatat sebesar US$ 4,04 miliar, defisit hasil minyak US$ 15,94 miliar. Namun gas surplus US$ 7,58 miliar. Perdagangan non migas masih mengalami surplus sebesar US$ 3,83 miliar.

Jadi dapat kita simpulkan defisit kita ada pada sisi defisit neraca migas. Saya ingin fokus pada pembenahan neraca migas kita, yang tentu saja terkait dengan kemandirian energi. Ketergantungan yang tinggi pada energi fosil yang saat ini terjadi menyebabkan tingginya impor kita untuk memenuhi kebutuhan domestik yang semakin meningkat.

Ini masalah struktural yang terpendam lama selama puluhan tahun dan baru kita diskusikan serius saat ini. Untuk itu upaya pengalihan konsumsi energi dari fosil perlu kita kurangi dengan mengoptimalkan energi alternatif terbarukan seperti konsep B 20.

Dengan mengoptimalkan B20 yang terus meningkat hingga akhirnya menjadi B 100 akan menyehatkan neraca migas kita dan neraca perdagangan secara umum.

Dari importir, kita bisa mengubah bangsa Indonesia menjadi eksportir sumber energi alternatif. Tapi tentu saja syaratnya adalah konsistensi kebijakan yang didukung oleh semua elemen bangsa Indonesia disertai perbaikan efisiensi dan adaptasi teknis pada mesin-mesin kita. Semua produsen mobil dan mesin lainnya yang menjual produk ke Indonesia diwajibkan menyesuaikan dengan kebijakan B 20.

—-

*Eka Sastra, Legislator Fraksi Partai Golkar, Anggota Komisi VI DPR-RI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *