KABAR NASIONAL

Peluncuran dan Diskusi ‘Reformasi Pasar’, Buku Terbaru Eka Sastra

ilustrasi (kabargolkar)

kabargolkar.com – Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Eka Sastra meluncurkan buku terbarunya yang berjudul ‘Reformasi Pasar’. Selain peluncuran buku, acara ini juga dilengkapi dengan bedah isi buku yang dipandu oleh Didik J. Rachbini, pengamat ekonomi.

Bertempat di kompleks Gedung Parlemen DPR RI di Jakarta, Selasa (18/9/2018) acara ini diliput oleh wartawan. Tampak warga masyarakat, para mahasiswa, sesama anggota parlemen antusias untuk membahas isi buku tersebut. ‘Reformasi Pasar’ adalah buku terbaru Eka Sastra yang memaparkan pemikiran legislator muda Golkar ini terkait ekonomi dan permasalahannya yang membelit bangsa.

Peluncuran dan diskusi buku ‘Reformasi Pasar’ (kabargolkar)

LP3ES sambut baik penerbitan buku

Dalam Sambutannya, Didik J Rachbini mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Eka Sastra adalah sesuatu hal yang istimewa mengingat kesibukannya sebagai legislator.

Buku ini sangat istimewa karena mencampurkan aspek teoritis dan aplikasinya dalam dunia nyata. Masukan yang disampaikan oleh Didik, agar dalam kesempatan berikutnya dapat lebih dalam menggali dan membongkar hal-hal yang membelenggu perekonomian Indonesia. Contohnya, menurut Didik, kartel dalam pembelian dan pengadaan pesawat oleh pemerintah. Didik menyebutnya ‘kartel harga’.

“Pelajaran penting, yaitu sinkronisasi antara KPPU dengan pemerintah,” demikian Didik mengulas ‘kartel harga’ yang mampu mengontrol harga pembelian pesawat terbang di masa lalu.

Pasar yang tidak sehat, kesejahteraan rakyat memburuk

Eka Sastra mengatakan case utama bahwa pasar yang tidak sehat akan menjadi penyebab memburuknya kesejahteraan rakyat.

Pasar sebagai institusi. Secara sosiologis pasar adalah sebuah institusi yang terbentuk dari kekuatan-kekuatan yang ada dalam masyarakat. “Sebagai institusi, pasar tidaklah sempurna, maka dibutubkan intervensi oleh pemerintah agar lebih baik,” demikian ungkap Eka.

Tapi ternyata dalam perjalanannya intervensi tersebut malahan membuat pasar menjadi semakin terdistorsi.

“Kombinasi buruknya sisi supply dan demand membuat struktur ekonomi kita menjadi rapuh,” demikian ungkap Eka. (tim liputan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *