KABAR GOLKAR

Pembayaran Utang Membengkak di 2018, Pemerintah Mesti Waspada

utang

ilustrasi (net)

kabargolkar.com Laporan Kementerian Keuangan mengungkap adanya pembengkakan pembayaran utang dan bunga utang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun anggaran 2018.

Pembayaran utang sebesar Rp258,1 triliun mengalami pembengkakan sebesar Rp19,5 triliun. Pembayaran itu jauh lebih besar dari asumsi awal sebesar Rp238,6 triliun atau mencapai 108,2 persen.

Pembayaran bunga utang tahun anggaran 2018 juga mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Realisasi pembayaran sebesar  Rp216,6 triliun. Kementerian Keuangan mengungkapkan penyebab kenaikan pembayaran bunga utang. Hal tersebut akibat kebijakan normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Sebagaimana diketahui, Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebagai respons kondisi ekonomi AS yang terus mengalami perbaikan.

Faktor lain yang ditengarai menjadi penyebab membengkaknya pembayaran tersebut karena dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya Dollar AS. Sebagai informasi, kurs rupiah terdepresiasi sebesar 6,89 persen sepanjang tahun 2018.

Pemerintah perlu waspada utang

Selama ini pemerintah selalu menerapkan pengelolaan anggaran, khususnya utang dengan penuh kehati-hatian. Faktor internal maupun eksternal sekiranya dapat menjadi bahan pertimbangan langkah pemerintah, khususnya terkait utang. Kebijakan ekonomi, khususnya terkait hal ini dapat menjadi bahan untuk menyerang pemerintah, terutama pada masa Pemilu 2019 ini.

Kebutuhan dana pembangunan infrastruktur yang selama ini dilakukan pemerintah dan juga pengembangan investasi oleh BUMN harus mendapat perhatian. Keduanya harus terus didorong namun tetap mempertimbangkan prioritas. Bila pemerintah harus berutang, hal tersebut harus mampu mengembangkan produktivitas masyarakat. Jangan akhirnya tersia-siakan sehingga akan membebani rakyat.

Sisi positif

Walaupun ada pembengkakan dari sisi pembayaran bunga utang, namun pembiayaan utang pada tahun 2018 justru justru menurun. Pembiayaan utang hanya sebesar Rp366,7 triliun. Besaran ini mencapai 91,8 persen dari target Rp399,2 triliun di APBN 2018. Terdapat penurunan sekitar Rp62 triliun dibanding tahun 2017. Tahun 2017 pembiayaan utang sebesar Rp429,1 triliun, atau sebesar 93 persen dari target di APBN 2017.

Kementerian Keuangan mengungkapkan langkah penurunan jumlah pembiayaan utang dilakukan pemerintah sebagai antisipasi kondisi ekonomi global dan domestik.  Kebijakan The Fed menaikkan suku bunga acuan akan berdampak pada pasar utang domestik. Yield atau imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) akan meningkat. Bila tidak diantisipasi, ke depannya hal ini akan menambah beban berat pembayaran utang pemerintah.

(kabargolkar)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *