OPINI

Pemilu 2019, Untungnya Capres Cawapres Apesnya Caleg

Oleh:Rori Abu Syakira

Pada 17 April nanti bangsa Indonesia memiliki hajatan besar sebagai Negara yang menganut sistem Demokrasi, suka tidak suka, benar atau tidak benar itulah faktanya bahwa Negara Indonesia sampai saat ini menyepakati sistem tersebut. Hajatan Besar yang dimaksud adalah metode mempertahankan dan peralihan kekuasaan yang disepakati bersama, yaitu Pemilu 2019 yang akan diselenggarakan dalam satu hari serentak didalam seluruh wilayah negara ini dan juga untuk WNI yang sedang di luar negeri juga diadakan dihari yang sama dengan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) menurut yang diumumkan KPU mencapai 185,7 juta pemilih, selain jumlahnya yang besar pemilu kali ini juga untuk memilih Presiden, anggota DPR, DPRD provinsi, DPRD kabupaten juga DPD.

Mungkin Pemilu 2019 adalah pemilu paling besar dan paling rumit di dunia yang diadakan dalam waktu serentak, di 80 dapil dan 34 provinsi utk caleg DPR RI & caleg DPD, Walaupun demikian pemilu yang sebegitu rumit tetapi perhatian bangsa ini dibuat sederhana menjadi seakan akan hanya memilih Presiden dari 2 pasang Capres. Baik media massa ataupun media sosial hanya sibuk memberitakan dan membahas capres, perdebatan dan diskusi di warung kopi ataupun di pasar juga terfokus terhadap pilpres saja. Sementara pemilihan legislatif hampir terluput dari perhatian, baik penyelenggara pemilu (kpu & bawaslu) ataupun peserta pemilu ( partai politik) kurang melakukan sosialisasi juga pendidikan politik untuk Pileg 2019.

Bahkan dalam satu hari menurut penelitian internal salah satu parpol pemberitaan tentang pilpres di media massa dalam sehari mencapai 3.000an sementara berita tentang pileg tidak ada setengahnya. Padahal dalam Pileg 17 April 2019 bangsa ini memilih 575 anggota DPR RI dan 136 anggota DPD yg akan duduk di Senayan juga 2.207 anggota DPRD Provinsi dan 17.610 anggota DPRD Kota/kabupaten, bandingkan dengn pilpres yg hanya memilih satu pasangan diantara dua pasangan capres dan cawapres.

Begitu banyak informasi tentang kelebihan dan kekurangan 2 pasangan capres dan cawapres, ini berbanding terbalik dengan sedikitnya informasi untuk Caleg, selain baliho besar besar dan poster dipinggir jalan yang berisi foto wajah dan nomer urut caleg dikertas suara, hampir tidak ada informasi penting lainnya tentang Caleg dibaliho tersebut, yang membantu para pemilih rasional untuk memilih calegnya.

Jangankan untuk memilih 575 caleg terbaik untuk anggota DPR RI dari 7.968 caleg DPR dan 136 anggota DPD dari 807 caleg DPD, membedakan perbedaan antara DPR dan DPD, juga apa fungsi dan tugasnya masing-masing saja, banyak dari calon pemilih belum mengetahui ataupun mengerti apalagi faham. Bagaimana bisa menghasilkan pemilu yang berkualitas?

Tetapi disini saya tidak akan membahas lebih jauh nilai nilai dari tujuan demokrasi dan pemilu yang berkualitas sesuai yg ideal.

Tapi mari kita coba lihat sedikit masalah teknis yang akan muncul dilapangan dari banyaknya potensi masalah teknis yang akan muncul.

Diantaranya yaitu:
pertama, lebar kertas suara yang 51 cm sementara lebar bilik yg disediakan KPU lebarnya hanya 50 cm, sehingga ruang untuk membuka dan melihat isi kertas suara akan terasa sempit dan ada resiko tersobek sehingga kertas suara menjadi tidak sah, kemudian dengan ruang tersebut bagi pemilih akan mengalami kesulitan mencari nama caleg yg akan dicoblos diantara 120an nama caleg dan 16 partai yang ada di surat suara, apalagi banyak pemilih yang belum pernah melihat susunan dan bentuk surat suara dalam yang ukuran asli. Dengan sempitnya ruang maka tentu secara teknis gambar partai politik dan nama calegnya yang berada dibagian tengah surat suara akan sedikit memiliki keuntungan karena nyoblosnya bisa langsung tanpa menekuk atau melipat suara, sementara partai kolomnya dipinggir maka pemilih terkadang pemilih akan sedikit melipat kertas suara dan inilah yang dikhawatirkan jika coblosan paku menembus lipatan tersebut, yang mengakibatkan suara rusak atau tidak sah.

Yang kedua adalah kolom untuk nama caleg hanya 8 ml, sementara paku yang digunakan untuk mencoblos lumayan besar sehingga ada kemungkinan lobang bekas coblosan melebihi kolom yang ada bisa mengenai kolom nama diatasnya ataupu dibawahnya, walaupun suara sah dan masuk untuk partai politiknya tapi ini bisa menimbulkan perselisihan nama caleg yang dipilih.

Dua hal yang kami sebutkan semoga menjadi perhatian kita, segera disosialisasikan kepada parpol, caleg peserta dan juga para pemilih agar tidak menyebabkan suara hangus.

Selain itu harus terus disosialisasikan untuk Pileg itu memilih nama caleg atau no urutnya bukan gambar wajah karena dikertas suara tidak ada gambar wajah caleg DPR RI dan DPRD, berbeda dengan surat suara untuk pilpres yang ada wajah capresnya dan pilihannya cuma dua. Sehingga para timses caleg selain tugasnya mempromosikan caleg yang didukungnya juga, memastikan para pendukungnya mencoblos dengan benar dan sah, dan tidak bingung ketika di TPS.

Partai politik juga caleg harus menyampaikan kertas suara warna apa saja untuk apa saja, jangan sampai pemilih akan mencoblos nama Caleg DPRD tapi mencarinya dikertas suara warna Kuning (untuk DPR RI) ya ngak akan bakalan ketemu nama yang dicari. Kemudia juga dimana letak kolom parpol yg akan dipilih, juga perlu disampaikan

misal : Jangan lupa ya, cari partai politik yang ada di Pojok Kanan Atas dengan nomer urut caleg no 4. Mungkin ini adalah hal mudah bagi pemilih milenial tapi para pemilih yg sudah diatas usia 50 tahun mencari nama Caleg dikertas suara itu sama sulitnya ngisi TTS apalagi ditambah ditungguin banyak orang, yang pasti membuat nervous.

Semoga opini menjadi perhatian dalam usaha menghasilkan pemilu yang berkualitas dan mengurangi resiko suara tidak sah atau salah coblos dari caleg yang akan dicoblos.

Dan mari juga tambah porsi perhatian, pemberitaan dan pembahasan tentang caleg karena hasil pileg 2019 adalah penting karena yang akan menentukan siapa yang akan ikut pilpres 2024.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *