KABAR DPD KABAR PILEG

Pengamat Politik Nilai Golkar Sulsel Perlu Kerja Maksimal

Pengamat politik, Luhur Prianto menilai, bukan hal mudah bagi petahana di Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 di Daerah Pemilihan (Dapil) Sulawesi Selatan (Sulsel) 1 untuk mempertahankan perolehan suara yang telah diraih pada Pileg 2014 di kursi Parlemen. [foto: dok. rakyat sulsel]

kabargolkar.com, MAKASSAR – Persaingan antara Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPR RI di tiga Daerah Pemilihan (Dapil) yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulslel) makin kompetitif di Pileg 2019, khususnya di Dapil Sulsel 1. Sebab, bukan hal mudah bagi petahana untuk mempertahankan perolehan suara yang telah diraih pada Pileg 2014 di kursi Parlemen.

Sejumlah indikator menjadi rujukan keterpilihan Caleg yang diusung oleh partai politik (parpol), di antaranya ketokohan Caleg menjadi salah satu indikator penting yang juga tidak luput diperhitungkan oleh parpol.

Pengamat Politik dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Luhur Prianto mengatakan, kompetitifnya persaingan di Dapil Sulsel 1 untuk merebut kursi di DPR RI menjadi hal penting untuk diperhatikan oleh Caleg Incumbent dengan munculnya Caleg baru yang juga memliliki ketokohan mumpuni, bahkan memiliki peluang terlebih formasi dukungan saat ini di beberapa kabupaten/kota terjadi perubahan.

“Persaingan Dapil Sulsel 1 DPR RI cukup kompetitif. Para incumbent tidak cukup aman untuk bertahan. Di beberapa kabupaten/kota terjadi perubahan formasi dukungan. Caleg baru di Dapil ini punya ketokohan mumpuni. Potensi penambahan kursi pada sejumlah parpol tetap terbuka, dengan syarat terjadi konsistensi suara dukungan partai di Pileg dengan Pilpres,” ungkap Luhur saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kamis (17/1).

Partai Golkar di Pileg 2014 hanya mampu merebut satu kursi DPR RI Dapil Sulsel 1, sehingga partai berlambang beringan ini membutuhkan kerja optimal dari seluruh Calegnya untuk merebut kursi DPR RI.

“Basis pemilih tradisional Golkar seperti di Gowa, Takalar, dan Selayar akan bergeser mengikuti arah dukungan para kader Golkar yang berdiaspora ke partai lain,” imbuh Luhur Prianto.

Namun Luhur mengungkapkan, Partai Golkar bisa jadi tidak diuntungkan dengan pencalonan Jokowi sebagai Capres, mengingat akseptabilitas dukungan pada Jokowi cenderung ke parpol lain.

“Seperti PDIP, Nasdem, dan PKB. Sementara, Golkar bisa meresistensi dukunganna pada Jokowi,” pungkasnya. [tim liputan]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *