KABAR GOLKAR

Waspada! Bermodal Pengalaman SBY dan Pilkada 2018, PAS Upaya Robohkan JKW di Kandangnya

pas

ilustrasi (faktualnews)

kabargolkar.com Manuver kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (PAS) mendirikan posko pemenangan di Jawa Tengah, khususnya Solo ibarat membuka front pertempuran langsung di depan markas lawan. Di dunia politik Indonesia, Jawa Tengah, dan Solo khususnya bisa disebut sebagai ibukota PDIP dan Jokowi. Bahkan sering dikatakan, Jawa Tengah adalah milik PDIP.

Namun, ternyata tidak selamanya seperti itu. Sebagai informasi, di Pileg dan Pilpres 2009 silam, PDIP yang hingga sekarang masih dipimpin oleh Megawati pernah takluk dikandangnya sendiri. Ya, kala itu, Jawa Tengah takluk oleh Susilo Bambang Yudhoyono.

Faktor SBY

Banyak yang menyangka Jokowi akan melenggang dengan mudah di Pilpres 2019, mengulang kesuksesan tahun 2014. Patut diingat, pada pertemuan pertama JKW vs PRB ini, SBY masih di posisi netral. Namun tidak pada pertemuan kedua di 2019 nanti. Sebagaimana diketahui, Partai Demokrat dan SBY telah merapat ke kubu PAS.

Jadi bukan tidak mungkin strategi Prabowo-Sandi untuk mengalahkan petahana di Jawa Tengah bisa direalisasikan. Kesabaran menjadi kunci. Ditambah dengan pengalaman dan strategi SBY, hasil 2019 belum tentu sama dengan 2014.

Pengalaman Pilkada 2018

PAS dapat mengambil hikmah dari Pilkada 2018 yang memperebutkan kursi Jabar-1 dan Jateng-1. Sebagaimana diketahui, Kursi Jabar-1 dimenangkan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Nasdem, PKB, PPP, Hanura) dengan raihan 32,88%. Yang mengejutkan, tampilnya  Sudrajat-Ahmad Syaikhu (PKS, Gerindra) di posisi kedua dengan raihan 28,74% suara. Padahal di survei terakhir, pasangan ini hanya mampu meraih belasan digit, bahkan ada yang meramalkan satu digit saja. Artinya tidak dianggap. Terlebih alasan PKS yang menyebutkan RK tidak transparan menyebutkan presiden yang akan didukungnya bila memenangkan Pilgub, membuat masyarakat Jabar terkecoh. Bisa jadi, bila RK sejak awal transparan menyebut Jokowi sebagai Presiden yang akan didukungnya di Pilpres 2019, hasilnya menjadi berbeda.

Pengalaman di Jateng juga demikian. PDIP yang begitu jumawa menjagokan pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin Maimoen Zubair mampu meraup 70 persen suara kemenangan. Kenyataannya? Pasangan yang diusung PDIP, Nasdem, PPP, Partai Demokrat, Partai Golkar hanya mampu meraih 58,78% suara kemenangan saja. Sebaliknya, Sudirman Said-Ida Fauziyah (Gerindra, PAN, PKS, PKB) diluar dugaan mampu merebut 41,22% suara. Pencapaian ini jauh melampaui perkiraan yang tadinya disebut hanya akan ikut meramaikan saja.

Menurut perhitungan  Tim Pemenangan PAS, Salah satu faktor untuk dapat mengungguli petahana adalah dengan meraih angka perolehan suara di Jateng secara maksimal. Jika di Jateng dapat angka seperti hasil Pemilihan Gubernur Jateng lalu, maka PAS unggul secara nasional dengan angka tipis.

Perlu waspada

Kubu Prabowo  meyakini masih mampu menguasai Jabar, DKI Jakarta, serta Banten. Sedangkan, untuk wilayah Yogyakarta dan Jatim suara kedua pasangan dianggap masih berimbang. Secara perhitungan, tinggal Jateng yang masih dikuasai Jokowi. Patut diingat bahwa dengan jumlah pemilih mencapai 27,9 juta (Jabar 32,6 juta dan Jatim 30,5 juta), tidak heran jika Jateng menjadi wilayah paling ‘panas’ untuk dikuasai oleh para paslon.

Tentu saja Partai Golkar sebagai bagian dari koalisi pendukung pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin perlu mewaspadai manuver ini. Pertarungan memperebutkan suara rakyat tidak semudah yang dibayangkan. (kabargolkar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *