Direktur Utama PT Sucofindo (Persero), Sandry Pasambuna, menjelaskan bahwa pihaknya bertanggung jawab memastikan teknologi yang diterapkan memenuhi standar keselamatan dan keandalan sebelum dioperasikan.
“Sebagai perusahaan Testing, Inspection, Certification and Consultation (TICC), Sucofindo berperan sebagai pihak independen yang memastikan implementasi teknologi H2 DDF pada Bus DAMRI memenuhi aspek keselamatan, keandalan, dan kesesuaian teknis,” ujar Sandry.
Menurut Sandry, proses verifikasi dan sertifikasi menjadi tahapan penting agar pemanfaatan teknologi hidrogen dapat dilakukan secara aman, terukur, dan sesuai dengan standar teknis yang berlaku.
Bus H2 DDF menggunakan 16 tabung penyimpanan hidrogen berkapasitas masing-masing 50 liter dengan tekanan nominal 200 bar dan tekanan kerja 150 bar. Sistem tersebut dipasang pada bus Hino bermesin diesel enam silinder berkapasitas 7.684 sentimeter kubik.
Hasil pengujian yang dilakukan PT Sucofindo menunjukkan teknologi H2 DDF mampu menekan emisi kendaraan secara signifikan, dengan penurunan emisi opasitas sebesar 57,66 persen, karbon monoksida 45,45 persen, karbon dioksida 39,37 persen, serta nitrogen oksida 21,16 persen.
Melalui proyek percontohan ini, pemerintah berharap penggunaan hidrogen dapat mengurangi konsumsi bahan bakar solar, menggantikan sebagian penggunaan bahan bakar fosil, serta menekan emisi gas buang tanpa harus mengganti seluruh armada kendaraan yang telah beroperasi.