Anggota Dewan Kehormatan DPP Partai Golkar, Anwar Arifin. (Foto: Dok. Istimewa) [/caption]
kabargolkar.com - Terkait dengan pernyataan Lembaga Survei Independen Nusantara (LSIN) yang mengatakan adanya perpecahan antar partai politik (Parpol) di Pilpres 2019, Partai Golkar menyebut jika perpecahan tersebut dapat diredam dengan cara-cara yang cerdas. Bahkan, Golkar menyebut jika potensi itu tak terlalu menonjol. "Sebenarnya potensi itu tidak begitu menonjol dan saya katakan bahwa itu bisa diredam dengan cara-cara yang cerdas kan," kata Anggota Dewan Kehormatan DPP Partai Golkar Anwar Arifin, Minggu (27/5/2018).
Menurutnya, potensi persatuan khusunya di dalam konsep Kosgoro, ormas sayap Partai Golkar justru lebih besar. Anwar pun mencontohkan saat dirinya masih memipin Kosgoro bersama Ketum Golkar Airlangga Hartarto. "Saya katakan untuk sementara ini nggak ada tandingan yang menonjol di internal Kosgoro. Jadi, tidak ada tandingan di internal. Oleh karena itu, potensi untuk konflik tidak terlalu tinggi dan potensi untuk bersatu akan lebih besar terjadi," tuturnya.
Untuk itu, dirinya pun menyarankan agar setiap parpol untuk tetap menjalankan mekanisme partainya masing-masing. Hal tersebut guna meminimalisir adanya potensi perpecahan tersebut. Menurutnya, saran tersebut selalu dilakukan oleh Golkar dalam meminimalisir konflik. "Saya mengusulkan tetap menempuh mekanisme partai, rapimnas dan itu bisa dilakukan dengan sangat cepat saja. Golkar dalam hal seperti berpengalaman dan selalu memang setiap calon itu diajukan melalui mekanisme sebagaimana yang diatur anggaran dasar," tutupnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Menjelang digelarnya pemilihan presiden (Pilpres) 2019, sejumlah pihak menilai akan terjadi perpecahan antar partai politik (Parpol). Bahkan perpecahan tersebut akan semakin menguat. Perpecahan itu juga dinilai dipicu oleh adanya perbedaan calon yang didukung pada perhelatan demokrasi lima tahunan tersebut. "Jadi perpecahan partai politik tahun 2014, berpotensi terjadi lagi di tahun 2019," kata Direktur Eksekutif LSIN Yasin Mohammad.
Menurutnya, perbedaan pilihan calon yang akan diusung juga berdampak pada perseteruan antar papol. Hal itu tak menutup kemungkinan perseteruan tersebut terjadi pada sebuah koalisi. "Perbedaan beda pilihan ini sekaligus menimbulkan dampak berupa perseteruan antara koalisi elit versus koalisi kader parpol," ujarnya. (bambang)
sumber berita