Doli percaya diri Partai Golkar tak kekurangan tokoh untuk Pemilu 2024. Bahkan, kata Doli, banyak yang dulu kader Golkar kini keluar dari partai dan membentuk partai baru.
Berdasarkan pengalamannya, Doli menilai banyak masyarakat di daerah-daerah yang merindukan ketokohan dari Golkar. Untuk mengulangi kejayaan Pemilu 2004 pada Pemilu 2024, Doli mengatakan Golkar mengurangi konflik dan merangkul seluruh internal.
"Makanya, kami sekarang ini agak mengurangi ya adanya konflik-konflik internal gitu ya, kemudian meng-kickout orang yang ada di dalam ke luar, justru kita sekarang mau merangkul semua. Karena kami yakin betul, apa yang dilakukan Pak Akbar (Tandjung) 2004 itu salah satunya adalah mampu mengkonsolidasi semua kekuatan internal partai," imbuhnya.
Sementara itu, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Siti Zuhro, mencatat Partai Golkar selalu masuk tiga besar pemenang pemilu sejak reformasi. Siti menilai Golkar perlu lebih memperhatikan pemilih muda jika ingin menjadi pemenang pemilu.
"Saya mencatat pertama adalah Golkar ini partai yang kokoh, bertahan dengan semua cobaan, dan tetap eksis gitu ya, dan berperan penting bahkan di tengah gempuran perubahan dan munculnya partai baru. Jadi Golkar memiliki kader-kader andal," ucapnya.
"Golkar harus memahami perilaku pemilih di Pemilu 2024, karena memang eranya sudah berganti, zamannya sudah berubah. Yang kedua, era new normal, disrupsi digital, dan juga Society 4.0, itu mensyaratkan semua partai politik harus berubah, termasuk Golkar," ulas Siti.
Selain itu, Siti Zuhro menilai Golkar harus mempertimbangkan pemilih muda serta menarik pemilih pemula. Pemilih mudah dan pemilih pemula menurut Siti Zuhro tak menyukai retorika.
"Ciri pemilih pemula atau muda itu ternyata tidak menyukai retorika. Jadi mereka ini lebih rasional. Dan diperkirakan pemilih muda dan pemula ini di Pemilu 2024 nanti itu berjumlah 60 persen dari total pemilihan kita," ujar Siti Zuhro.
Guru besar UIN Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra, menyarankan sejumlah hal kepada Partai Golkar untuk memenangi Pemilu 2024. Setidaknya, ada tiga hal yang dapat dilakukan Partai Golkar agar kejayaan pada Pemilu 2004 bisa terulang.
"Yang harus diatasi adalah ketika kesulitan Golkar pasca-2004 itu, itu adalah ketika beberapa tokohnya menyempal menjadi splinter mendirikan partai baru, partai sendiri, seperti Wiranto, Partai Hanura, tapi saingan berat itu masih NasDem, Surya Paloh, Prabowo, Partai Gerindra, itu kan asalnya dari Partai Golkar," kata Azyumardi.
Tokoh lama Golkar, seperti Wiranto, Surya Paloh, dan Prabowo, menurut Azyumardi, perlu dirangkul agar Golkar dapat menang pada 2024. Menurut Azyumardi, setidaknya para tokoh itu bisa 'ditarik kembali' untuk mendapatkan suara.
"Nah, bagaimana cara Golkar itu, sedikit-banyak saya kira orang-orang Golkar dulu lari ke Surya Paloh NasDem dan kepada Partai Gerindra, sedikit-banyak itu pasti. Saya kira, ini kalau ingin berjaya kembali, ini harus dirangkul kembali caranya itu. Harus ada langkah-langkah mengkonsolidasikan kelompok-kelompok yang splinter atau menyempal dari Golkar ini, dari induknya Golkar," ujarnya.