Kabargolkar.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, penurunan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di seluruh daerah berdampak terhadap stabilnya angka inflasi. Ini juga disokong oleh membaiknya sektor kesehatan, sehingga aktivitas masyarakat kembali bergerak dan konsumsi kembali meninggi
Airlangga juga mengatakan pelonggaran status level PPKM mengakibatkan peningkatan moda transportasi, khususnya angkutan udara untuk menunjang aktivitas dan mobilitas masyarakat.
“Aktivitas dan mobilitas masyarakat berangsur-angsur terus meningkat, tercermin dari inflasi Kelompok Transportasi sebesar 0,33% (mtm) dan memberikan andil sebesar 0,04%, yang utamanya disumbang oleh kenaikan harga pada tarif angkutan udara dengan andil 0,03 pesen," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Selasa (2/11/2021).
Airlangga menjelaskan, komponen harga bergejolak (volatile food/VF) kembali mengalami inflasi sebesar 0,07% (mtm), dan 3,16% (yoy), setelah selama dua bulan sebelumnya mengalami deflasi yang disebabkan penurunan harga beberapa komoditas hortikultura.
Namun, kenaikan komoditas hortikultura, seperti aneka cabai pada Oktober perlu diwaspadai. Sebab, saat ini telah masuk musim penghujan yang biasanya dapat mengurangi produktivitas tanaman hortikultura.
"Komoditas pangan lainnya yang mengalami kenaikan harga dan memberikan andil inflasi yakni minyak goreng (0,05%) dan daging ayam ras (0,02%). Sementara beberapa komoditas VF yang mengalami penurunan harga dan menyumbang deflasi yakni telur ayam ras (-0,03%), tomat (-0,02%), bawang merah, sawi hijau, bayam, kangkung (andil masing-masing sebesar (-0,01%)," kata Airlangga.
Perbaikan permintaan domestik tersebut tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dilaporkan IHS Markit pada Oktober 2021, yakni di posisi sebesar 57,2. Nilai tersebut juga naik dari posisi bulan sebelumnya yang berada pada posisi 52,2.
Membaiknya level PMI Oktober 2021 sejalan dengan berlanjutnya penurunan kasus Covid-19 yang stabil. Peningkatan efektivitas pengendalian pandemi dan berlanjutnya berbagai Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) diperkirakan mampu menjaga momentum peningkatan aggregate demand masyarakat, sehingga menjadi insentif dalam mengakselerasi output di sektor manufaktur.
“Ke depan, pemerintah meyakini, target inflasi sampai akhir 2021 akan tetap bisa dijaga dalam rentang sasaran. Pemerintah juga akan terus mengantisipasi transmisi kenaikan harga komoditas global dengan menjaga pasokan dalam negeri, serta memastikan kelancaran distribusi, utamanya menjelang dan selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal 2021,” kata Airlangga.