Diantara Ma’ruf Amin Dan Sandiaga Uno, Siapa Yang Dipilih?
Oleh Kabar Golkar · · Kabar Nasional
Karir politik melesat sebagai wakil gubernur DKI
Karir politik Sandiaga Uno melesat dengan pencapaiannya sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Anies Baswedan. Pasangan ini datang sebagai underdog yang menantang Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, dan tidak ada yang menyangka akan menang melawan petahana. Sandiaga juga duduk sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra. Walau kemudian, demi menunjukkan keseriusannya maju di Pilpres 2019 ini, dirinya rela mundur dari posisinya sebagai Wagub DKI dan sekaligus mundur dari Partai Gerindra.
Sosok muda dan santun pembawa kesejukan
Banyak orang membaca bahwa penetapan Sandiaga Uno sebagai Cawapres pendamping Prabowo, selain muda dan tampan juga sebagai penarik suara generasi milenial dan suara ‘emak-emak’. Hal tersebut tidak perlu ditampik, tapi bukan itu alasan sebenarnya. Ada hal yang lebih penting lagi, yaitu Sandiaga adalah sosok yang paham ekonomi. Sebagai oposisi, Prabowo selalu konsisten membawa isu ekonomi yang amburadul.Kehadiran Sandiaga Uno diharapkan dan memberikan pemahaman lebih jelas tentang strategi yang dibutuhkan untuk membawa Indonesia keluar dari kondisi ekonomi yang amburadul tersebut.
Antara Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno
Ma’ruf Amin dapat dilihat sebagai sosok penengah, sebagai upaya Jokowi untuk mengambil hati dan suara umat Islam. Sosok ini tidak terlepas dari kontroversi kasus Ahok dan tuduhan penistaan agama yang menjadi kompor Pilkada DKI 2017 lalu. Tentu saja pemilihan beliau sebagai pendamping Jokowi tidak dapat memuaskan semua pihak walaupun dapat menjadi pemikat bagi Nahdliyin dan umat Islam, namun akan menjadi sosok yang membuat pendukung Ahok menimbang-nimbang untuk kembali memilih Jokowi. Walau mestinya tidak sampai berpaling ke Prabowo, namun, setidaknya sosok Ma’ruf Amin akan membuat mereka abstain dalam Pemilu 2019, dan hal itu akan membuat Jokowi kehilangan suara salah satu elemen yang keras mendukungnya di Pemilu 2014 lalu.
Sosok Ma’ruf Amin juga dianggap sudah terlalu tua. Walau kemudian, dapat diargumentasikan bahwa usia tidak menjad penghalang, dengan contoh kasus pemilihan di Malaysia, dimana Mahathir Mohammad kembali memegang tampuk kepemimpinan di usia 93 tahun. Pemilihan beliau juga dapat diartikan sebagai pragmatisme Jokowi. Alih-alih memilih calon yang dapat meneruskan programnya, malahan memilih sosok tua yang dianggap kontroversial, konservatif (bagi sebagian kalangan) tidak merepresentasikan masa depan, dan hanya sekedar melanjutkan kekuasaan belaka, sekaligus menutup pintu untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan di lima tahun ke depan.
Dengan memilih Ma’ruf Amin, Jokowi hanya berpikir lima tahun ke depan. Jokowi mungkin berpikir menghilangkan ancaman di masa depan. Namun, Jokowi dapat dikatakan mengulang kesalahan sebelumnya, bila berkaca pada keputusan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan memilih Boediono. Sama seperti Ma’ruf amin, Boediono bukanlah ancaman, namun efeknya terasa di lima tahun berikutnya. Partai Demokrat terlempar dari kekuasaan, dan harus puas bertukar peran sebagai oposisi di luar pemerintahan.
Sandiaga Uno sebagai pendamping Prabowo dianggap sebagai sosok yang mewakili generasi muda, mewakili sosok muslim modern yang taat terhadap ulama dan orang tua. Dirinya dapat dilihat sebagai representasi generasi masa depan. Sosoknya yang murah senyum, sedap dipandang, ramah dan lembut, tentu perlahan akan mengundang simpatik.
Kehadiran sosok sandiaga Uno dalam kontestasi puncak perebutan kursi puncak kepemimpinan di negeri ini memberikan kesegaran. Ternyata masih ada harapan. Walau ada argumentasi, usianya masih muda dan dianggap belum berpengalaman, namun, kehadirannya adalah bukti nyata bahwa Prabowo memikirkan nasib bangsa ke depan. Setidaknya, Prabowo memiliki jaminan ada sosok yang akan melanjutkan program pembangunannya (bila dirinya terpilih). Prabowo telah memiliki visi sampai dengan minimal 20 tahun ke depan.
Muda dan segar. Sandiaga Uno dapat menawarkan solusi kreatif di era baru, era milenial yang serba dinamis. Usia muda bukanlah kelemahan, tapi kekuatan untuk menyongsong masa depan dan perubahan yang serba cepat.
Terlepas dari perbedaan dan kekurangan dari kedua sosok Cawapres. Keduanya menarik karena memecah kebuntuan politik diantara kubu Jokowi dan Prabowo, menghindari kristalisasi dua kubu berbeda yang makin kencang perselisihannya. Harapannya, keberadaan Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno dapat melembutkan kebuntuan dan kekerasan hati di kedua kubu tersebut. Sosok cawapres ini akan menjadi pertimbangan bagi pemilih rasional dalam memilih pasangan calon yang dianggap layak memimpin bangsa ini di lima tahun ke depan. #
*pegiat sosial