[caption id="attachment_15133" align="alignnone" width="700"]

Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), Dito Ariotedjo. [Foto: Sriwijaya Post][/caption]
Kabargolkar.com, JAKARTA - Muda, berani, dan berprestasi menjadi ramuan lengkap dan telah melekat pada diri Dito Ariotedjo. Pria yang lahir 28 tahun silam ini memiliki prestasi yang cukup unggul, terlebih dirinya yang berpenampilan cakap laiknya seorang prajurit yang gagah dan cakap.
Dito yang memiliki semangat millenial ini rupanya telah menjadi inspirasi bagi sejumlah kader muda Partai Golkar lainnya mengingat Dito juga menjabat sebagai Ketua DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI).
Seperti dilansir ayoberita.com, masuknya Dito ke Golkar ini tak lepas masa-masa kuliah dan terlibat dalam organisasi kemahasiswaan. Di sana, ia bisa mendapatkan tambahan teman, menambah jaringan dan lain-lain.
Diberi kepercayaan untuk menjabat sebagai ketua DPP sempat membuat ia merasa ragu akan kemampuannya. Akan tetapi, perlahan namun pasti ia berhasil membangun kepercayaan diri dan berusaha sebaik mungkin agar bisa membayarnya.
Seperti diketahui, Dito yang juga pengusaha muda ini terbilang berani masuk ke ranah politik. Hal ini dikarenakan semasa kuliah, Dito sudah giat di kepemudaan dan aktivis kampus. Menurutnya, menjadi aktivis adalah passion.
"Jadi selama ini juga menjalani usaha semata-mata dalam rangka kemandirian ekonomi. Memang passion aslinya di organisasi yang lebih berafiliasi pada politik lah, khususnya Golkar," terang Dito.
Ia menambahkan, dirinya lebih tertarik berorganisasi karena selain menambah teman, ia juga senang mencoba berbagai hal dan tantangan baru.
"Kenapa ujungnya politik? Sebenarnya ini mungkin lebih ke arah ikut arus dan alam yang membuat saya ke sini," ungkapnya.
Saat ditanya tentang cara membagi waktu antara berbisnis dengan kegiatan di Partai Golkar, Dito meresponya dengan santai dan lugas. Menurutnya, membagi waktu antara dua bidang yang sangat bertolak belakang tersebut masih dalam tahap pembelajaran.
"Tetapi sekarang saya telah mewakafkan diri saya lebih ke sosiopolitik sih, jadi memang bisnis saya sudah berjalan, ada tim yang menjalani ya, jadi kita bisa lebih bebas," paparnya.
Dito menceritakan, sebelum terjun ke dunia aktivis dan politik, dirinya lebih banyak mengisi waktunya dengan membangun bisnis. Mulai dari membangun integritas, kredibilitas, serta merambah ke semua jaringan baru yang ditemukannya saat itu.
"Dunia politik tantangannya itu ombaknya berbeda dengan bisnis, dinamikanya sangat tinggi. Kalau di politik, saya mengaplikasikan nilai-nilai profesionalitas di bisnis. Kalau di politik itu kan saya selalu berusaha profesional, selalu melahirkan karya, kerjanya apa, sisanya iklas aja sih," ungkapnya lagi.
Saat dikonfirmasi, jika dirinya harus memilih antara bisnis atau politik, Dito mengaku cukup berat harus memilih salah satu bidang yang menjadi fokus ke depannya.
"Sama, dua-duanya menurut saya sama, karakternya aja yang berbeda. Tetapi point-point nilai fundamentalnya sama," jelasnya.
Baginya, jabatan itu hanyalah jubah, inti dalam kehidupan ini menurutnya adalah kemanusiaan. Ia selalu mencoba hal yang sama, berbuat baik kepada setiap orang, karena hal itu justru memperkecil potensi konflik atau dislike ke orang lain