KabarGolkar - Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, Ahmad Doli
Kurnia Tandjung, menegaskan bahwa momentum Halal Bihalal Partai Golkar Sumatera Utara minggu, 12 April 2026, harus dimaknai sebagai titik penting untuk menutup dinamika politik masa lalu sekaligus memperkuat konsolidasi ke depan.
Menurutnya, pertemuan ini setidaknya memiliki dua makna besar. Pertama, sebagai momentum refleksi dan saling memaafkan setelah melalui berbagai dinamika politik, khususnya menjelang dan pasca bulan Ramadan.
“Kita tutup semua yang terjadi di masa lalu, baik setahun terakhir maupun beberapa bulan kemarin, dengan saling memaafkan. Sekecil atau sebesar apa pun dinamika yang terjadi, saya yakin niat kita satu, yaitu membesarkan Partai Golkar,” ujar Doli.
Ia menekankan bahwa perbedaan dan dinamika yang terjadi sebelumnya adalah bagian dari proses politik yang wajar. Namun kini saatnya seluruh kader membuka lembaran baru dengan semangat yang sama: membesarkan partai di seluruh Indonesia, khususnya di Sumatera Utara.
“Atas nama pribadi, keluarga, dan juga mewakili DPP Partai Golkar, saya menyampaikan mohon maaf lahir dan batin,” tambahnya.
Momentum kedua, lanjut Doli, adalah sebagai bentuk rasa syukur atas capaian Partai Golkar dalam Pemilu 2024. Ia menyebut hasil yang diraih, baik secara nasional maupun di Sumatera Utara, merupakan buah dari kerja keras seluruh kader.
Namun demikian, Doli mengingatkan bahwa kemenangan politik tidak datang secara instan, melainkan melalui sejumlah “titik kritis” yang harus dilewati.
Ia menjelaskan, keberhasilan dalam pemilu ditentukan oleh tiga hal utama: konsolidasi organisasi, perencanaan strategi, dan kemampuan mengoperasionalkan program secara efektif.
“Musyawarah daerah provinsi adalah titik kritis pertama. Kalau itu gagal, maka sepertiga peluang kemenangan kita akan terganggu. Alhamdulillah, kita sudah melewati itu,” jelasnya.
Doli juga mengakui bahwa dalam setiap Musda pasti terdapat kontraksi politik. Namun hal tersebut merupakan bagian alami dalam dinamika partai.
“Sekuat apa pun kontraksi politik yang terjadi, hari ini adalah momentum kita untuk recovery, untuk kembali menyatukan kekuatan,” tegasnya.
Ia pun mengingatkan agar seluruh kepengurusan di tingkat provinsi benar-benar inklusif dan mengakomodasi semua pihak, sebagai bagian dari proses pemulihan pasca dinamika politik.
Ke depan, Doli menyebut Partai Golkar akan menghadapi titik kritis berikutnya, yakni pelaksanaan Musyawarah Daerah Kabupaten/Kota. Ia meminta agar proses tersebut tidak berlarut-larut dan segera dituntaskan.
“Kalau menghadapi titik kritis, jangan lama-lama. Seperti orang sakit, makin lama dibiarkan, makin besar risikonya. Maka setelah SK keluar, segera lakukan pelantikan, maksimal satu bulan harus selesai,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setelah Musda Kabupaten/Kota, proses konsolidasi harus dilanjutkan hingga ke tingkat kecamatan, desa, hingga TPS. Jika seluruh tahapan ini berhasil dilalui, maka dua pertiga proses menuju kemenangan sudah tercapai.
Adapun titik kritis terakhir, menurut Doli, adalah dalam penentuan agenda politik dan kaderisasi, termasuk dalam menentukan calon-calon pemimpin di berbagai level, mulai dari kepala daerah hingga legislatif