Kabargolkar.com - Sampai saat ini Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji menjadi salah
satu pembaca setia koran Pontianak Post. Membaca surat kabar di pagi hari, menjadi kebiasaannya sejak remaja. Bahkan ia selalu merasa ada yang kurang, ketika dalam satu hari tak membaca koran.
Perjalanan hidup Sutarmidji memang tak bisa dilepaskan dari koran atau surat kabar. Kegemarannya membaca sudah tumbuh sejak remaja. Itu karena sedari kecil ia sudah aktif menjajakan koran, majalah dan buku dari satu tempat ke tempat lain. Seperti pasar, kantor wali kota dan pelabuhan di Kota Pontianak.
Dari berjualan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) itu, ia lantas senang membaca. Kebiasaan membaca bahkan terus dilakukan hingga saat ini. Di tengah kesibukannya sebagai pejabat, mulai dari dosen, anggota DPRD, wakil wali kota, wali kota hingga gubernur, membaca koran di pagi hari seolah menjadi kewajiban.
Salah satu surat kabar yang sering ia baca adalah Pontianak Post yang hari Rabu (2/2/2022) genap berusia 49 tahun.
“Saya biasanya kalau sudah selesai salat subuh, gerakkan badan sebentar, sambil menunggu koran datang. Begitu koran datang, saya langsung baca,” katanya.
Jika banyak berita yang ingin dibaca, rutinitas membaca koran di pagi hari bisa ia lakukan berjam-jam. Midji sapaan karibnya biasa membaca surat kabar sambil ditemani segelas kopi.
“Biasanya saya jam 06.00 lewat (setelah baca koran), sudah siap-siap mandi dan lain sebagainya untuk persiapan ke kantor. Biasanya saya ke kantor jam 08.00, tapi sebelumnya saya harus tahu dulu berita-berita hari itu (dari koran),” ungkapnya.
Midji memang dikenal sebagai orang yang disiplin terhadap waktu. Maka dari itu, ketika ada rutinitas yang terlewat, ia selalu merasa ada yang kurang. Termasuk aktivitas membaca koran.
“Karena terbiasa ya, sehingga kalau satu hari itu belum baca koran, rasanya di dalam diri ada yang kurang lengkap,” ucap ayah tiga anak itu.
Mantan wali kota Pontianak dua periode itu bahkan selalu bertanya pada diri sendiri apa yang kurang saat kebiasaan itu terlewat. Setelah dipikir-pikir, ternyata ia baru sadar belum membaca koran.
“Jadi kadang bertanya, apa yang hari ini belum saya lakukan, ternyata belum baca koran,” tambahnya.
Pernah sesekali terjadi, ketika loper koran terlambat atau berhalangan mengantar, Midji terpaksa meminta dibelikan koran. Tapi hal itu hanya terjadi beberapa kali. Selebihnya Midji bercerita, sebelum jam 06.00 rata-rata koran langganannya sudah datang.
“Saya suruh beli (koran) karena takutnya ada rasa yang tertinggal tidak diakukan pada hari itu. Karena baca koran hal yang rutin, ketika hal yang rutin tidak dilakukan, satu kali saja, maka akan bercari-cari, apa hal yang belum dilakukan,” ceritanya.
Alasannya tetap membaca koran atau media cetak hingga saat ini, karena informasi yang diterima bisa lebih lengkap. Berita yang disajikan koran menurutnya lebih detail dibanding media-media daring (online).
“Pontianak Post, salah satunya yang jadi referensi saya untuk melihat kondisi (informasi) pada hari itu,” ujar pria kelahiran 1962 itu