kabargolkar.com, PEKANBARU - Partai Golkar bertekad menyapu bersih kemenangan di sembilan pilkada 2020 Provinsi Riau. Namun, keadaan politik saat ini sangat dinamis, sehingga akan sulit diprediksi.
Pengamat politik Universitas Riau, Mexaxai Indra, mengungkapkan partai politik harusnya berkaca pada gelaran pilkada-pilkada terdahulu. Menurutnya, dalam beberapa gelaran pilkada di Riau terdapat kecendrungan pemilih akan menjauhi sosok yang diusung mantan penguasa. "Ada kecendrungan pemilih tidak melirik sosok yang dinilai dekat dengan mantan penguasa," katanya kepada Gatra.com, Minggu (9/2).
Mexaxai mencontohkan hasil pilkada Kabupaten Kuansing tahun 2015 . Dimana sosok yang dinilai dekat dengan mantan bupati dua periode Kuansing, Sukarmis (dari Partai Golkar), justru mengalami kekalahan. "Itu fenomena yang harus dicermati. Meskipun presepsi publik Riau itu masih Golkar," ujarnya.
Sebagai partai yang mengakar di Riau, Golkar sejatinya dihadapkan dengan bekurangnya jumlah kabupaten/kota yang berhasil dikuasai. Pada sembilan gelaran pilkada di Riau September mendatang, Golkar hanya berstatus sebagai penguasa di 4 wilayah, meliputi : Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hilir, dan Kabupaten Indragiri Hulu. Sisanya sebanyak 4 wilayah pernah dikuasai Golkar, yaitu: Kabupaten Kuansing, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Siak dan Kota Dumai.
Mexaxai menuturkan, Golkar juga harus mewaspadai kecendrungan pemilih menjauhi politik dinasti. Selain Itu, ia mengingatkan perlunya Partai Golkar mewaspadai calon kepala daerah petahana. "Bagaimanpun mereka itu (Bupati/Wakil Bupati) dengan jabatanya memiliki instrumen politik yang bisa dijadikan etalase untuk menyapa publik," pungkasnya.(*)