Lebih lanjut, Menko Luhut menjelaskan bahwa pemulihan ekonomi yang cepat di berbagai sektor akan tertangkap sepenuhnya pada triwulan IV 2021. Dirinya yakin bahwa ekonomi Indonesia mampu tumbuh di atas 5 persen pada triwulan IV nanti.
“Sebagaimana tema outlook pada hari ini “Mewujudkan Momentum Ekspansi Ekonomi”, ekspansi ekonomi akan terus berlanjut dengan syarat kita mampu mengendalikan Pandemi Covid-19 pada tingkat yang rendah, sehingga kita tidak lagi perlu menerapkan pembatasan sosial yang ketat yang berdampak besar terhadap perekonomian. Dan semua industri dengan Pedul Lindungi kita sudah buka 100%, karena dengan Peduli Lindungi semua bisa diketahui,” ungkapnya.
Untuk itu, lanjut Menko Luhut, Pemerintah mengambil pendekatan yang sangat hati-hati terutama menghadapi periode liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Belajar dari pengalaman tahun lalu, lonjakan mobilitas pada periode Nataru berdampak pada kenaikan kasus yang kemudian menyebabkan pemulihan ekonomi menjadi mundur. Pendekatan yang hati-hati juga dimaksudkan untuk memberi waktu bagi tingkat vaksinasi masyarakat agar dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi, seperti targetkan vaksinasi dosis 1 dapat mencapai 80 persen dan vaksinasi dosis 2 dapat mencapai 60 persen pada akhir tahun.
“Dikombinasikan dengan penggunaan Peduli Lindungi yang lebih luas dan penguatan 3T, saya yakin Pandemi Covid-19 tetap akan terkendali pada tahun depan, sehingga ekspansi ekonomi akan terus menguat. Di samping itu, kita melihat obat covid ini semakin maju, dan ini saya pikir langkah yang dilakukan agresif oleh Indonesia dalam bidang kesehatan,” paparnya.
Transformasi Ekonomi Indonesia
Selain menjaga kasus pada tingkat yang rendah, Menko Luhut memaparkan bahwa kunci untuk menjaga momentum ekspansi ekonomi adalah upaya bersama dalam melakukan transformasi ekonomi Indonesia.
“Saat ini, melalui upaya hilirisasi SDA, Indonesia telah berubah menjadi pemain penting dalam supply chain mobil listrik. Presiden sudah berikan arahan untuk Nickle Ore, dan lainnya. Kita akan membuat Indonesia berubah ke depan ini,” ujar Menko Luhut.
Diketahui upaya hilirisasi SDA ini juga telah membuahkan hasil yang nyata. Ekspor besi dan baja Indonesia mencapai USD16,5 miliar hingga Oktober ini dan diperkirakan akan menembus USD20 miliar pada tahun 2021. Ekspor besi dan baja mampu membantu kinerja neraca transaksi berjalan yang mencatatkan surplus pada triwulan III 2021. Terjaganya defisit neraca transaksi berjalan akan membantu Indonesia dalam menghadapi risiko global normalisasi kebijakan moneter AS pada tahun 2022 dan 2023.
“Ke depan, kita tidak hanya berhenti di besi dan baja, tetapi produk lain seperti HPAL, battery cathode dan precursor. Terkait battery cathode dan precursor ini sudah berjalan, Indonesia melakukan kerja sama investasi dengan Inggris, untuk kemudian diekspor ke Eropa,” tuturnya.
Pemerintah juga terus mendorong kerja sama investasi dengan berbagai negara, salah satunya Uni Emirat Arab. Hasil kunjungan ke Uni Emirat Arab pada November lalu menghasilkan komitmen investasi hingga sebesar USD44,6 miliar di berbagai bidang.
Upaya meningkatkan investasi juga terus dilakukan melalui proses penyederhanaan perizinan sebagai implementasi dari UU Cipta Kerja. Melalui penyederhanaan perizinan berusaha ini Pemerintah optimis akan dapat memperbaiki iklim investasi di Indonesia sehingga dapat menarik investor lebih banyak lagi ke Indonesia.
“Berkaca dari keberhasilan kita menangani pandemi Covid-19, Saya yakin perekonomian Indonesia akan terus melanjutkan momentum ekspansinya. Dikombinasikan dengan upaya transformasi ekonomi melalui hilirisasi SDA dan perbaikan iklim investasi yang terus menerus, Indonesia akan mampu keluar