Menperin Agus Gumiwang: Potensi Komoditas Perkebunan Masih Tinggi
Oleh Bambang Soetiono · · Kabar Kabinet
Dalam Seminar Nasional Peran Standardisasi dan Produktivitas Hasil Komoditas Perkebunan dalam Rangka Meningkatkan Nilai Ekspor Nasional yang diselenggarakan beberapa waktu lalu, Putu menjelaskan tantangan yang dihadapi dalam upaya hilirisasi kelapa sawit. Di antaranya perlunya revitalisasi teknologi produksi CPO dan kebijakan tata kelola pemenuhan kebutuhan produk hilir minyak sawit untuk alokasi dalam negeri dan ekspor, serta kendala tingginya input energi dan biaya logistik pada industri pengolahan minyak sawit khususnya yang berorientasi ekspor. “Salah satu upaya yang perlu diambil untuk mengatasi tantangan tersebut adalah membangun pabrik pengolahan kelapa sawit di lokasi perkebunan,” ia menyampaikan.
Pada komoditas atsiri, Indonesia memiliki cukup potensi untuk mengembangkan komoditas tersebut. Dari 99 jenis atsiri, terdapat 40 jenis yang tumbuh di Indonesia. Sebanyak 17 jenis atsiri telah dibudidayakan dengan tujuh jenis di antaranya merupakan unggulan.
Demikian pula dengan komoditas kelapa yang cukup berlimpah di Indonesia. Namun begitu, hilirisasinya masih terbatas pada industri gula kelapa, industri minyak kelapa, industri sabut kelapa, dan industri kelapa terpadu dengan contoh hasil produknya berupa santan dan air kelapa kemasan. “Salah satu tantangannya adalah produk hilir kelapa didominasi oleh produk intermediate yang bernilai tambah rendah. Karenanya, kami mendorong riset dan pengembangan industri pengolahan kelapa di dalam negeri agar menciptakan produk-produk baru,” tambah Dirjen Industri Agro.
Sementara itu, di industri pengolahan rempah saat ini terdapat 182 industri bumbumasak dan penyedap masakan yang berkembang di Indonesia. Namun demikian, Indonesia masih berada di posisi 18 untuk eksportir bumbu di dunia. Untuk itu, Kemenperin mengambil beberapa kebijakan untuk meningkatkan ekspor, di antaranya promosi program Spice Up the World dan pengembangan restoran Indonesia di luar negeri.
Kemudian, industri karet mencatat produksi karet alam mencapai 3,1 juta ton pada 2021, berkontribusi 22% terhadap total produksi karet alam dunia yang sebesar 14 juta ton.Indonesia berada di posisi kedua produsen karet alam setelah Thailand. Sedangkan untuk perdagangan karet alam di dunia, Indonesia juga menempati peringkat kedua setelah Thailand dengan kontribusi ekspor Indonesia sebesar 22% atau setara 2,4 juta ton.