Kabargolkar.com - Musyawarah Daerah (Musda) Pengurus Daerah Kolektif (PDK) Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) 1957 Kota Pematangsiantar diharapkan dapat melahirkan pokok-pokok pikiran.
“Terutama konteksnya, bagaimana Kosgoro 1957 ini terlibat dalam pembangunan kota dan membangun komunikasi yang bagus. Saya selalu mengatakan tak usah kita berkelahi dengan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Tidak ada untungnya,” tegas Ketua PDK Kosgoro 1957 Sumut Riza Fakhrumi Tahir saat membuka Musda ke-1 Kosgoro 1957 Kota Pematangsiantar di Convention Hall Siantar Hotel, Minggu (14/11).
Menurut Riza, memberikan kritik tidak masalah, tapi harus juga siap untuk dikritik. “Kritik saja, tapi Kosgoro juga harus siap dikritik. Siap mengkritik, harus siap dikritik. Kalau kami di olahraga beladiri, siap memukul dan harus siap dipukul. Mau memukul, tapi tidak siap dipukul, itu namanya egois, tidak demokratis dan tidak moderat.”
“Yang kedua, Kosgoro 1957 harus tetap membangun kerjasama dengan Partai Golkar. Suka atau tidak suka, siapapun pemimpin Partai Golkar, Kosgoro 1957 tetap melekat dengan Partai Golkar. Tidak ada istilah tidak bekerjasama, tolong ingatkan saya Mangatas (Ketua DPD Partai Golkar Pematangsiantar), kalau Kosgoro 1957 mbalelo, macam-macam, saya akan tegur. Kalau salah saya tegur dan kalau benar, saya akan bela, itu konsekuensi,” tegas Riza.
Pada kesempatan itu, Riza menyebutkan Pematangsiantar memiliki catatan sejarah dengan Kosgoro 1957 di Sumut. “Memang betul, Pematangsiantar mempunyai catatan sejarah yang luar biasa dengan Kosgoro 1957, karena Pematangsiantar dengan Kosgoro 1957 Labuhanbatu merupakan organisasi yang pertama berdiri di Sumut setelah kita pisah dengan Kosgoro. Kita mendeklarasikan Kosgoro 1957.”
“Pada 2003, Ketua Partai Golkar Pematangsiantar almarhum Ramli Silalahi, ayah Mangatas yang saat ini Wakil Ketua DPRD Pematangsiantar dan Ketua Kosgoro 1957 pertama Haji Zubeir Parinduri, dikukuhkan di lapangan H. Adam Malik. Pak Agung Laksono yang hadir, termasuk Barisan Muda Kosgoro 1957. Pematangsiantar yang pertama di Sumut,” sebut Riza.
Berdasarkan sejarah itu, Riza mengharapkan agar seluruh pengurus Kosgoro yang ada di Pematangsiantar dapat merawat perjalanan sejarah itu. “Teman-teman pengurus kecamatan dan pengurus kolektif harus paham, Pematangsiantar mempunyai sejarah di dalam perjalanan Kosgoro 1957 di Sumut.”
Sementara, Mangatas MT Silalahi mengharapkan Musda melahirkan keputusan-keputusan politik maupun rekomendasi yang bisa berkontribusi ke masyarakat Pematangsiantar. “Ke masyarakat dulu secara umum, baru ke keluarga besar Kosgoro dan kemudian ke Partai Golkar, karena afiliasi politiknya Kosgoro ke Partai Golkar. “Sampai hari ini, Kosgoro tidak pernah keluar dari Partai Golkar.”
Pembukaan Musda dihadiri Wali Kota Hefriansyah, diwakili Staf Ahli Wali Kota Bidang Pembangunan Daniel H Siregar, organisasi yang mendirikan dan didirikan Partai Golkar, Ketua dan anggota Fraksi Partai Golkar DPRD, Ketua PDK Kosgoro Hendra PH Pardede, periode sebelumnya dan lainnya. Musda diawali dengan upacara nasional dan laporan Ketua Panitia Irwansyah tentang Musda berupa pemilihan pengurus baru dan penyusunan program.