Kabargolkar.com - Dalam perjalanan panjang untuk mencapai Kemerdekaan Indonesia, tidak terlepas
dari peran penting perempuan-perempuan Indonesia. Mereka berjuang mempersembahkan jiwa dan raganya, baik di garis depan maupun garis belakang pertempuran
Setelah itu di masa pembangunan mengisi kemerdekaan, telah banyak lahir "Srikandi" yang memberi kontribusi bagi pembangunan bangsa dan negara.
Kehadiran para perempuan menjadi kunci dalam keberhasilan pembangunan Indonesia. Pembangunan yang komprehensif tidak akan tercipta tanpa hadirnya ruang dan kesempatan yang setara baik perempuan maupun laki-laki. Terlebih bagi perempuan muda yang terus hadir untuk memberi kontribusi bagi bangsa dan negara di bidang politik, sosial maupun budaya.
Hal itu terungkap dalam bincang santai Kabar Golkar bersama tiga “Srikandi” muda partai Golkar. Mengangkat tema “Perempuan Golkar Menjawab Tantangan Zaman”. Mereka hadir sebagai sosok yang dapat menginspirasi perempuan muda Indonesia untuk memperjuangkan haknya, dan berkontribusi di bidang masing-masing. Bincang santai ini diselenggarakan dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-76 pada Selasa (17/8) mendatang.
Ketiga narasumber itu ialah Dyah Roro Esti (Anggota Komisi VII DPR RI), Lindsey Afsari Putri (Sekjen KPPG), dan Soraya Hartini (Ketua Bidang Koperasi PP AMPG).
Membuka diskusi ini Lindsey yang juga merupakan pebisnis sukses menjelaskan maka merdeka bagi dirinya. Merdeka dianalogikannya serupa jalan tol. Di mana kendaraan dapat melaju kencang karena bebas hambatan, jalan luus tanpa beban tapi dalam berkendara tetap ada norma dan aturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis.
“Ternyata tetap ada aturannya, ada koridornya sehingga kemerdekaan itu tetap harus membuat kita bertanggungjawab. Bagi politisi perempuan sendiri bebas artinya tidak mengalami kekerasan, tekanan dan diskriminasi. Paling penting merdeka dalam hal kita memenuhi hak-hak kita dan kewajiban kita,” jelasnya.
Bagi anggota DPR RI, Dyah Roro merdeka dapat bermakna multi tafsir. Tafsir pertama ialah kemerdekaan yang dicapai para pejuang di tanggal 17 Agustus 1945. Lalu di satu sisi kemerdekaan ditafsirkan merdeka dari rasa takut, rasa tidak percaya diri yang menghambat cita-cita.
“Ketika kita merdeka dan berani untuk melewati rasa takut tersebut agar bisa maksimal memberi manfaat untuk negara dan bangsa Indonesia,” ujar politisi muda ini.
Lebih lanjut Roro, tafsir kedua merdeka bagi politisi perempuan ialah memperjuangkan Indonesia menjadi negara maju. Sebagai negara besar, Indonesia punya potensi untuk menjadi negara ekonomi terebesar dunia nomer 5 di tahun 2045 sehingga sebagai politisi muda harus mampu memperjuangkan hal itu.
“Ketika kita merdeka dari kita sendiri dan bisa maksimal dalam pengabdian kita,” tukasnya.
Kemudian makna kemerdekaan ketiga bagi anggota DPR yang fokus pada bidang energi terbarukan ini ialah merdeka dari pandemi Covid-19.
“Kemerdekaan dari pandemi harus dimaknai dengan bergotong royong. Bantu satu sama lain karena untuk bisa merdeka dan bangkit tidak bisa hanya bergantung dari pemerintah untuk mengerjakan segala tugasnya kita harus mengetahui peran kita untuk membantu satu sama lain agar bisa bangkit dari pandemi,” jelasnya