Kabargolkar.com - Jelang Pilpres 2024, kerja-kerja politik tiap partai politik (parpol) di Indonesia sudah mulai terasa sejak 2021 hingga 2022 sekarang.
Eks Menteri Koordinator Perekonomian, Prof Ginandjar Kartasasmita mengatakan, saat ini setiap timses parpol sedang berlomba-lomba mendukung calonnya agar bisa menang di Pilpres 2024.
"Banyak calon yang dianggap memiliki kesempatan untuk maju. Setiap calon banyak pendukung dan semua bermain di media, sehingga terasa hiruk pikuk," ujar Ginandjar dalam keterangan persnya, Selasa (4/1/2022).
Ginandjar menilai, para capres yang saat ini muncul kepublik, dinilai memiliki surveyor sendiri.
"Sudah bisa terbaca polster mana berada di depan calon mana. Survei atau polling adalah gabungan profesi dan bisnis. Polling ada ilmunya, dan di banyak negara maju relatif akurat, kalau dijalankan secara profesional dan ilmiah," katanya.
"Tapi kalau bisnis yang menonjol, maka surveyor seperti tailor, hasil sesuai dengan ukuran pelanggan. Jujur saja susah kita membedakan antara tipe yang pertama dan kedua," sambungnya.
Kemudian, Ginandjar menilai, demokrasi Indonesia sudah lumayan baik di era Presiden Jokowi selama dua periode memimpin Indonesia.
Agar semakin kuat berakar dan menghasilkan kehendak rakyat yang sesungguhnya, semua pihak mesti bertanggung jawab menjaga iklim demokrasi.
"Jangan biarkan demokrasi kembali diperangkap oleh kekuatan-kekuatan anti demokrasi, yang menggunakan demokrasi bukan sebagai sistem yang benar, tetapi yang dapat dimanipulasi," harap Ginandjar.
Kekuatan anti demokrasi ini, kata Ginandjar, bisa berasal dari kelompok-kelompok yang berada di lingkaran kekuasaan dan ingin melanggengkannya dengan cara yang mudah.
"Serta yang merindukan sistem otoriter dibanding sistem demokrasi yang gaduh atau mengutip Samuel Huntington, authoritarian nostalgia," ucapnya.
Ginandjar sendiri meyakini, Jokowi tidak akan mengutak-atik Pemilu. Dia menilai, Jokowi akan lebih concern untuk meninggalkan legacy-nya.
"Tentu beliau ingin dicatat dalam sejarah sebagai presiden yang baik, great president. Tahun-tahun terakhirnya akan dicurahkan ke arah itu. Tidak mungkin beliau membiarkan tahun-tahun sisa menjadi sia-sia apalagi digunakan untuk tujuan jangka pendek seperti mengutak atik pemilu," papar Ginandjar.
Jokowi, katanya berkepentingan bahwa penggantinya mengapresiasi semua yang telah dilakukannya, serta mau dan mampu melanjutkan agenda-agendanya, seperti Ibu Kota baru. "Saya kira di tahun-tahun terakhir beliau ingin meninggalkan kesan kenegarawanan," tutupnya.