[caption id="attachment_10333" align="aligncenter" width="670"]
Bambang Soesatyo, Politisi Partai Golkar dan Ketua DPR (©2018 Liputan6.com/JohanTallo)[/caption]
kabargolkar.com - Ketua DPR yang juga politisi Partai Golkar Bambang Soesatyo meminta Polri, TNI dan BIN tak lengah untuk memininalisir sekaligus mereduksi potensi ancaman terorisme. Apalagi Indonesia sedang menggelar event besar seperti Asian Games 2018.
"Sehingga tidak menimbulkan rasa cemas atau kegaduhan di ruang publik. Kondusifitas di dalam negeri harus tetap terjaga, terutama karena Asian Games 2018 masih menyisakan banyak pertandingan pada berbagai cabang olahraga," kata Bamsoet, sapaan akrabnya, Minggu (26/8).
Legislator Partai Golkar itu memiliki alasan kuat untuk menyampaikan peringatan itu. Dasarnya adalah rangkaian informasi sepanjang pekan ketiga bulan ini.
Pertama adalah kasus penembakan dua anggota Patroli Jalan Raya (PJR) Polda Jabar, Aiptu Dodon Kusdianto dan Aiptu Widi Harjana, oleh tiga orang tak dikenal di Kilometer 223-400 jalur jalan Tol KanciPejagan di Kabupaten Cirebon, Jumat (24/8) malam.
Meski motif penembakan itu belum diketahui namun kasus penembakan itu hanya selang beberapa hari setelah beredarnya video ancaman ISIS di jagat maya.
Kedua, pada Selasa (21/8), sebuah video berisi ancaman dari Divisi Peretasan ISIS kepada pemerintahan Indonesia yang dipimpin Presiden Joko Widodo, beredar di dunia maya. Mereka menyoroti perlakuan pemerintah Indonesia kepada rekan-rekan mereka. Mulai dari pemenjaraan hingga pemblokiran akun sosial media.
Ketiga, Kamis (23/8), pemerintah Australia memperbarui travel advice untuk warganya yang hendak bepergian ke Indonesia. Alasannya, akan ada serangan teroris di Indonesia. Karena travel advice itu pula, staf konsulat jenderal Australia di Surabaya tidak menghadiri acaranya di Universitas Airlangga.
Setelah itu, dari Washington, AS, dilaporkan pada Jumat (24/8), bahwa otoritas intelijen setempat menetapkan tiga orang dari Asia Tenggara sebagai teroris. Mereka diduga merekrut orang lain bergabung dengan ISIS. Satu dari tiga orang itu berkewarganegaraan Indonesia, berinisial MKYF.
"Profil tiga orang ini terlihat dalam video ISIS pada Juni 2016, saat algojo ISIS memenggal tiga sandera," imbuh Bamsoet.
Memang, belum ada kepastian akan kaitan fakta-fakta itu. Tetapi, kata Bamsoet, Polri, TNI dan BIN patut menggarisbawahi dan memberi respons terukur.
Apalagi, setelah Asian Games 2018, Indonesia kembali menjadi tuan rumah pertemuan tahunan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF). Rencananya diselenggarakan pada Oktober 2018 di Bali. Forum ini akan dihadiri 18.000 anggota delegasi dari 189 negara, termasuk 10 pemimpin ASEAN.
"Semua potensi ancaman harus dieliminasi sejak dini," tegas Bamsoet.
sumber berita