kabargolkar.com - Wasekjen DPP Partai Golkar Samsul Hidayat menegaskan maraknya pemberitaan terkait fasilitas sel Setya Novanto dan framing isue pemberitaan negatife terhadap Golkar adalah cara-cara penggiringan opini agar masyarakat membenci Golkar.
"bicara toilet sel di sukamiskin buka dong seluruhnya, kenapa hanya sel pak Novanto ? padahal banyak penghuni lain yang mewah fasilitasnya, bicara aneka kasus kenapa yang sudah jelas tertuduh tidak disebut, kok malah Golkar, maka ini jelas pesanan untuk menjatuhkan Golkar" jelas Samsul.
Lebih jauh samsul menyampaikan ada beberapa framing isue / opini terhadap Golkar yang secara sistematis diberitakan di media saat ini, seperti yang santer diberitakan saat ini.
Pertama, terkait Isu e-KTP. Ada 2-3 kader Golkar lagi bakal dianggap terlibat. Memberi kesan bahwa pelayanan e-KTP lambat gara2 Golkar korup.
Kedua, kasus Setya Novanto. Terkait Mega Korupsi dan akan dimiskinkan, juga termasuk sel mewah beda dengan yang lain. Kriminalisasi dokter dan pengacara yang terlibat dalam kasus Setnov. Kemudian, Justice Colaborator, untuk buka kasus-kasus lain selama menjabat Ketum
Ketiga, kasus Bakamla. Mulai dari berita bayar suara dalam musda hal biasa. Lalu, Ketua-ketua DPD II di DKI nikmati hasil korupsi Bakamla. Fayakun Andriadi tokoh sentral kasus Bakamla. terakhir, belum di PAW dan dipertahankan.
Lanjut berikutnya, kasus PLTU Riau, ada oknum pengurus kembalikan 700jt tanpa instruksi DPP Partai Golkar. EMS merasa tak dijenguk atau diperhatikan DPP. Termasuk kemungkinan EMS jadi Justice Colaborator untuk bongkar kasus2 ESDM lainnya.
Kelima, terkait OTT Dana Gempa Lombok. Hal ini merupakan perilaku biadab harus dihukum mati. Digaungkan terus dari partai apa pelakunya.
berita itu ditimpakan ke Golkar melalui media mainstream dan beritanya hampir flooding tiap hari. "bagi lawan mari kita berkompetisi secara cerdas, dan bagi kawan janganlah pura-pura jadi sahabat tapi menikam dari belakang" tegas Samsul. (tim liputan)