Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila dan Wakil Ketua Umum SOKSI ini menambahkan, sebagai wartawan, dirinya juga mendapat banyak kesempatan bertemu para tokoh hebat, seperti Aburizal Bakrie, Fadel Muhammad dan Agung Laksono. Dari perkenalan itulah akhirnya ia bisa membangun relasi untuk mengembangkan berbagai usaha, hingga akhirnya bisa masuk Partai Golkar.
"Saya pertama kali mengikuti Pemilu sebagai calon anggota legislatif di Pemilu 1992 dengan nomor urut 18, Pemilu 1997 dengan nomor urut 8, Pemilu 1999 dengan nomor urut 4, dan Pemilu 2004 dengan nomor urut 2. Dalam keempat Pemilu tersebut, saya belum terpilih menjadi anggota legislatif. Baru pada Pemilu 2009, saya bisa terpilih menjadi anggota DPR RI. Disinilah saya belajar tentang pentingnya kerja keras dan konsistensi. Yakin usaha sampai, serta proses tidak akan mengkhianati hasil," cerita Bamsoet.
Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) dan Ketua Umum Pengurus Besar Keluarga Olahraga Tarung Derajat (PB KODRAT) ini menekankan, berbagai kegagalan yang dihadapinya dalam empat kali Pemilu tersebut (1992, 1997, 1999, dan 2004) justru membawa berkah tersendiri bagi dirinya karena bisa mengurus dan mengembangkan berbagai bidang usaha untuk membuka banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Sehingga ketika terpilih menjadi wakil rakyat dalam Pemilu 2009, dirinya sudah memiliki pondasi finansial yang kuat.
"Saat masuk menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014, saya sudah berkomitmen tidak ingin hanya sekedar datang, duduk, dan diam. Melainkan harus konsisten memperjuangkan kepentingan rakyat. Hal ini saya buktikan dengan menjadi salah satu inisiator Pansus Hak Angket Century, yang berhasil membongkar skandal Bank Century yang mengakibatkan kerugian negara mencapai Rp 6,7 triliun. Kemudian saya juga dipercaya menjadi Ketua Komisi III DPR RI, Ketua DPR RI, hingga kini sebagai Ketua MPR RI. Semua itu selain karena dukungan kawan-kawan dan masyarakat, juga tidak lepas dari buah kerja keras dan komitmen tinggi terhadap pengabdian sebagai wakil rakyat," pungkas Bamsoet.